Nusantara Indonesia

Wednesday, December 7, 2016

Mata biru suku Lingon,Halmarera

"Mata biru suku Lingon,Halmarera"         4 November 2018
@alamraya-street.blogspot.com

 Manusia bermata Biru sering kita lihat di negara-negara Eropa, namun ternyata suku bermata biru juga terdapat di indonesia? Yang tepatnya di suku pedalaman Halmahera. Suku tersebut disebut juga dengan suku Lingon. Dari warna matanya yang biru suku ini berbeda dengan suku suku bangsa yang ada di Indonesia.

Sejarah dan Asal Usul Suku Lingon Bermata Biru Asal Halmahera

Lingon adalah sebuah suku pedalaman yang mendiami Halmahera, Provinsi Maluku Utara, Indonesia yang dikenal karena memiliki ciri fisik ras Kaukasoid yakni berkulit putih, berrambut pirang, dan bermata biru, berbeda dengan suku-suku bangsa di Indonesia lainnya yang umumnya memiliki ciri fisik berkulit coklat, bermata coklat kehitaman dan berambut hitam.

Lantaran memiliki ciri fisik ala orang bule, maka nggak heran juga kalau orang-orang Lingon itu sangat cantik dan ganteng. Menurut cerita masyarakat, orang-orang Lingon memang seperti itu. Sayangnya, masyarakat Lingon sendiri seperti tidak menyadari kelebihannya itu. Menurut cerita lagi, katanya gara-gara kecantikan luar biasa gadis-gadis Lingon, mereka pernah diculik suku lain untuk dijadikan istri. Ada kabar yang mengatakan mereka sudah punah, tapi ada yang bilang juga suku Lingon sengaja menjauh agar tidak diusik.

Asal muasal

Tidak ada ceritanya orang ras Mongoloid bisa menghasilkan keturunan Kaukasoid, kecuali ada silang kawin di antara keduanya. Dengan berbekal teori ini maka dapat disimpulkan bahwa suku Lingon bukanlah orang-orang asli sini. Hal ini diperkuat dengan bukti-bukti cerita dari masyarakat sekitar yang secara tersirat seakan membenarkan hal tersebut.

Cerita muasal Lingon diawali dari karamnya sebuah kapal asal Eropa di sekitar Halmahera. Kemudian karena harus bertahan hidup, orang-orang kapal ini pun akhirnya menepi dan lama-kelamaan memasuki hutan. Lantaran susahnya akses dan lain sebagainya, mereka pun tak punya pilihan selain menetap dan akhirnya membentuk koloni sendiri yang disebut Lingon. Alasan kenapa mereka jadi primitif mungkin karena sudah terlalu lama tinggal di hutan. Pelan-pelan orang Lingon melupakan asal usulnya dan kemudian menyesuaikan diri.

Ciri Fisik

Suku Lingon bukanlah suku yang berasal dari ras weddoid, melanesia, polinesia, ataupun mongoloid seperti kebanyakan penduduk di Halmahera. Mereka termasuk dalam ras kaukasoid, sehingga tampilan fisik mereka lebih menyerupai orang Eropa seperti tubuh yang tinggi, kulit putih, rambut pirang, dan warna mata biru atau hijau.

Sampai saat ini, populasi suku Lingon masih belum diketahui keberadaannya. Dikatakan bahwa dahulu suku ini sering mendapatkan ancaman dari suku yang hidup di pesisir pantai, salah satunya adalah suku Togutil.

Orang dari suku Togutil kerap berusaha menculik gadis-gadis suku Lingon yang terkenal cantik dengan mata biru mereka. Beberapa suku setempat menganggap Suku Lingon berbahaya, lantaran dikenal memiliki ilmu sihir sehingga mereka juga kadang kala disegani.

Sumber referensi:
https://id.wikipedia.org/wiki/Lingon

Sunday, April 17, 2016

Sejarah Suku SASAK di Lombok

Suku di Lombok

Sejarah dan Kebudayaan Suku Sasak Lombok NTB

   Suku Sasak adalah salah satu suku bangsa di Indonesia yang mendiami pulau Lombok. Mayoritas suku Sasak beragama Islam, namun ada sebagian dari mereka yang berbeda dalam menjalankan ibadahnya, dan mereka disebut sebagai Islam Wetu Telu. Jumlah islam Wetu Telu hanya berjumlah sekitar 1% yang melakukan praktik ibadah seperti itu. Selain itu ada pula sedikit warga suku Sasak yang masih menganut kepercayaan pra-Islam yang disebut dengan nama "Sasak Boda".

Suku Sasak telah menghuni Pulau Lombok sejak 4.000 Sebelum Masehi. Ada pendapat yang mengatakan bahwa orang Sasak berasal dari percampuran antara penduduk asli Lombok dengan para pendatang dari Jawa. Ada juga yang menyatakan leluhur orang sasak adalah orang Jawa.

Sejarah

Asal mula nama Sasak kemungkinan berasal dari kata sak-sak yang artinya sampan. Dalam Kitab Negara Kertagama kata Sasak disebut menjadi satu dengan Pulau Lombok. Yakni Lombok Sasak Mirah Adhi. Dalam tradisi lisan warga setempat kata sasak dipercaya berasal dari kata "sa'-saq" yang artinya yang satu. Kemudian Lombok berasal dari kata Lomboq yang artinya lurus. Maka jika digabung kata Sa' Saq Lomboq artinya sesuatu yang lurus. banyak juga yang menerjemahkannya sebagai jalan yang lurus. Lombo Mirah Sasak Adi adalah salah satu kutipan dari kakawin Nagarakretagama (Desawarnana), sebuah kitab yang memuat tentang kekuasaan dan kepemerintahaan kerajaan Majapahit, gubanan Mpu Prapanca. kata "lombok" dalam bahasa kawi berarti lurus atau jujur, "Mirah" berarti permata, "sasak" berarti kenyataan dan "adi" artinya yang baik atau yang utama. Maka Lombok Mirah Sasak Adi berarti kejujuran adalah permata kenyataan yang baik atau utama.

Pendapat lain Menurut Goris S., “Sasak” secara etimologi, berasal dari kata “sah” yang berarti “pergi” dan “shaka” yang berarti “leluhur”. Dengan begitu Goris menyimpulkan bahwasasak memiliki arti “pergi ke tanah leluhur”. Dari pengertian inilah diduga bahwa leluhur orang Sasak itu adalah orang Jawa. Bukti lainnya merujuk kepada aksara Sasak yang digunakan oleh orang Sasak disebut sebagai “Jejawan”, merupakan aksara yang berasal dari tanah Jawa, pada perkembangannya, aksara ini diresepsi dengan baik oleh para pujangga yang telah melahirkan tradisi kesusasteraan Sasak.

Bahasa

Bahasa yang digunakan suku Sasak memiliki kedekatan dengan sistem aksara Jawa-Bali, sama-sama menggunakan aksara Ha-Na-Ca-Ra-Ka. Kendati demikian, secara pelafalan, bahasa Sasak ternyata lebih memiliki kedekatan dengan bahasa Bali. Menurut penelitian para etnologi yang mengumpulkan hampir semua bahasa di dunia, menggolongkan bahasa Sasak kedalam rumbun bahasa Austronesia Malayu-Polinesian, Juga ada kesamaan ciri dengan rumpun bahasa Sunda-Sulawesi, dan Bali-Sasak.
Bahasa Sasak yang digunakan di Lombok secara dialek dan lingkup kosakatanya dapat digolongkan kedalam beberapa bahasa sesuai dengan wilayah penuturnya seperti;

1. Mriak-Mriku (Lombok Selatan)
2. Meno-Mene dan Ngeno-Ngene (Lombok Tengah)
3. Ngeto-Ngete (Lombok Tenggara)
4. Kuto-Kute (Lombok Utara)

Adat

Salah satu adat istiadat suku Sasak yang menonjol adalah adat dalam proses perkawinan. Perempuan yang mau dinikahkan oleh seorang lelaki maka yang perempuan harus dilarikan dulu kerumah keluarganya dari pihak laki laki, ini yang dikenal dengan sebutan merarik atau pelarian.
Dalam proses pelarian gadis tidak perlu memberitahukan kepada orang tuanya. Namun dalam pelarian ini memiliki aturan yang perlu diikuti. Salah satu aturan dalam mencuri gadis biasanya dilakukan dengan membawa beberapa orang kerabat atau teman. Selain sebagai saksi kerabat yang dibawa untuk mencuri gadis itu sekalian sebagai pengiring dalam prosesi itu. Gadis yang dibawa lari juga tidak langsung ke rumah laki-laki tetapi harus dititip di rumah kerabat lelaki tersebut.

Struktur dan Sistem Masyarakat

Suku Sasak pada masa lalu secara sosial-politik, digolongkan dalam dua tingkatan sosial utama, yaitu

1. Golongan bangsawan yang disebut perwangsa
2. Bangsa Ama atau jajar karang sebagai golongan masyarakat kebanyakan.

Golongan perwangsa ini terbagi lagi atas dua tingkatan, yaitu:

1. Perwangsa

Bangsawan penguasa (perwangsa) umumnya menggunakan gelar datu. Selain itu mereka juga disebut Raden untuk kaum laki-laki dan Denda untuk perempuan. Seorang Raden jika menjadi penguasa maka berhak memakai gelar datu. Perubahan gelar dan pengangkatan seorang bangsawan penguasa itu umumnya dilakukan melalui serangkaian upacara kerajaan.

2. Triwangsa

Bangsawan rendahan (triwangsa) biasanya menggunakan gelar lalu untuk para lelakinya dan baiq untuk kaum perempuan. Tingkatan terakhir disebut jajar karang atau masyarakat biasa.Panggilan untuk kaum laki-laki di masyarakat umum ini adalah loq dan untuk perempuan adalah le.
Golongan bangsawan baik perwangsa dan triwangsa disebut sebagai permenak. Para permenak ini biasanya menguasai sejumlah sumber daya dan juga tanah. Ketika Kerajaan Bali dinasti Karangasem berkuasa di Pulau Lombok, mereka yang disebut permenak kehilangan haknya dan hanya menduduki jabatan pembekel (pejabat pembantu kerajaan).

Masyarakat Sasak sangat menghormati golongan permenak baik berdasarkan ikatan tradisi dan atau berdasarkan ikatan kerajaan. Di sejumlah desa, seperti wilayah Praya dan Sakra, terdapat hak tanah perdikan (wilayah pemberian kerajaan yang bebas dari kewajiban pajak). Setiap penduduk mempunyai kewajiban apati getih, yaitu kewajiban untuk membela wilayahnya dan ikut serta dalam peperangan. Kepada mereka yang berjasa, Kerajaan akan memberikan beberapa imbalan, salah satunya adalah dijadikan wilayah perdikan.

Landasan sistem sosial masyarakat dalam kehidupan suku Sasak umumnya mengikuti garis keturunan dari pihak laki-laki (patrilineal). Akan tetapi, dalam beberapa kasus hubungan masyarakatnnya terkesan bilateral atau parental (garis keturunan diperhitungkan dari kedua belah pihak; ayah dan ibu).

Pola kekerabatan yang dalam tradisi suku sasak disebut Wiring Kadang ini mengatur hak dan kewajiban anggota masyarakatnya. Unsur-unsur kekerabatan ini meliputi Kakek, Ayah, Paman (saudara laki-laki ayah), Sepupu (anak lelaki saudara lelaki ayah), dan anak-anak mereka.
Wiring Kadang juga mengatur tanggung jawab mereka terhadap masalah-masalah keluarga; pernikahan, masalah warisan dan hak-kewajiban mereka. Harta warisan disebut pustaka dapat berbentuk tanah, rumah, dan juga benda-benda lainnya yang merupakan peninggalan leluhur. Orang-orang Bali memiliki pola kekerabatan yang hampir sama disebut purusa dengan harta waris yang disebut pusaka.

Sistem Kepercayaan

Kepercayaan asli suku Sasak adalah Boda, beberapa menyebutnya Sasak Boda. Walapun ada kesamaan pelafalan dengan Buddha, namun sistem kepercayaan Boda tidak memiliki kesamaan dan hubungan dengan Buddhisme. Agama Boda orang Sasak ini justru ditandai dengan penyembahan roh-roh leluhur mereka sendiri.

Beberapa agama seperti Hindu-Budha masuk kedalam suku ini ketika kerajaan Majapahit masuk. Dan kemudian suku Sasak memeluk agama islam setelah peran Sunan Giri dalam dakwahnya menyebarkan islam. Setelah perkembangan Islam, kepercayaan Suku Sasak sebagian berubah dari Hindu menjadi penganut Islam. Selanjutnya kepercayaan Suku Sasak diklasifikasikan tiga kelompok utama; Boda, Wetu Telu, dan Islam (Wetu Lima).

Penganut Boda sebagai komunitas kecil yang berdiam di wilayah pegunungan utara dan di lembah-lembah pegunungan Lombok bagian selatan. Kelompok Boda ini konon adalah orang-orang Sasak yang dari segi kesukuan, budaya, dan bahasa menganut kepercayaan asli. Mereka menyingkir ke daerah pegunungan melepaskan diri dari islamisasi di Lombok.

Sedangkan Agama Wetu telu awalnya memiliki ciri sama dengan Hindu-Bali dan Kejawen. Di antara unsur-unsur umum, peran leluhur begitu menonjol. Hal itu didasarkan pada pandangan yang berakar pada kepercayaan tentang kehidupan senantiasa mengalir.

Pada perkembangannya Wetu telu justru lebih dekat dengan Islam. Konon, sekarang hampir semua desa suku Sasak sudah menganut Agama Islam lima waktu dan meninggalkan Wetu telu sepenuhnya. Sementara sinkretisme Islam-Wetu telu kini berkembang terbatas di beberapa bagian utara dan selatan Pulau Lombok. Meliputi Bayan, dataran tinggi Sembalun, Suranadi di Lombok Timur, Pujut di Lombok Tengah, dan Tanjung di Lombok Barat.

Istilah Islam-Wetu Telu diberikan karena penganut kepercayaan ini beribadah tiga kali di bulan puasa, yaitu waktu Magrib, Isya, dan waktu Subuh. Di luar bulan puasa, mereka hanya satu hari dalam seminggu melakukan ibadah, yaitu pada hari Kamis dan atau Jumat, meliputi waktu Asar. Untuk urusan ibadah lainnya biasanya dilakukan oleh pemimpin agama mereka; para kiai dan penghulu.

Arsitektur Suku Sasak

Rumah-rumah suku Sasak berbeda dengan arsitektur Bali pada umumnya. Di dataran, perkampungan suku Sasak cenderung luas dan melintang. Desa-desa Suku Sasak di wilayah pegunungan tertata rapi mengikuti perencanaan yang pasti. Di Lombok bagian utara, biasanya perkampungan Suku Sasak terdapat dua baris rumah tipe bale, dengan sederet lumbung padinya di satu sisi yang lain. Bangunan lain yang menjadi ciri khas perkampungan orang Sasak adalah rumah besar (bale bele).
Di antara deretan rumah-rumah itu dibangun balai yang bersisi terbuka (beruga) sebagai tempat pertemuan. Balai terbuka menyediakan panggung untuk kegiatan sehari-hari dalam fungsi hubungan sosial masyarakat. Balai ini juga digunakan untuk urusan keagamaan misalnya upacara penghormatan jenazah sebelum dikuburkan. Sementara makam leluhur yang terdiri dari rumah-rumah kayu dan bambu kecil dibangun di wilayah bagian atas dari perkampungan.
Sedikitnya ada empat jenis dasar lumbung dengan ukuran yang berbeda-beda. Semua lumbung, kecuali jenis lumbung padi yang berukuran kecil, memiliki panggung di bawah.
Di desa-desa Lombok bagian selatan, panggung yang berada di bagian bawah lumbung padi berperan sebagai balai. Di Lombok bagian utara, tidak semua desa memiliki lumbung padi.
Lumbung padi menjadi ciri khas yang sangat menarik dalam arsitektur suku Sasak. Bangunan Lumbung itu didirikan pada tiang-tiang dengan cara dan ciri khas yang mirip bangunan-bangunan Austronesia.

Bangunan ini memiliki atap berbentuk “topi” yang ditutup ilalang. Empat tiang besar menyangga tiang-tiang melintang di bagian atas tempat kerangka utama dibangun. Bagian atas  penopang kayu kemudian menguatkan rangka-rangka bambunya yang semua bagiannya ditutupi ilalang. Satu-satunya yang dibiarkan terbuka adalah sebuah lubang persegi kecil yang terletak tinggi di bagian ujung berfungsi untuk menaruh padi hasil panen. Untuk mencegah hewan pengerat masuk. Piringan kayu besar yang mereka sebut jelepreng, disusun di bagian atas puncak tiang dasarnya.
Rumah tradisional Suku Sasak berdenah persegi, tidak berjendela dan hanya memiliki satu pintu dengan pintu ganda yang telah diukir halus. Di bagian dalam, tidak terdapat tiang-tiang penyangga atap. Bubungan atapnya curam, terbuat dari jerami yang memiliki ketebalan kurang lebih 15 centimeter. Atap itu sengaja dibiarkan menganjur ke bagian dinding dasar yang hampir menutupi bagian dinding. Dinding terdiri dari dua bagian, bagian tengah yang menyatu dengan atap dibuat dari bambu, bagian bawah dibuat dari campuran lumpur, dan jerami yang permukaannya telah dipelitur halus.

Rumah digunakan terutama untuk tempat tidur dan memasak. Masyarakat Sasak jarang menghabiskan waktu di dalam rumah sepanjang hari. Di sisi sebelah kiri dibagi untuk tempat tidur anggota keluarga, juga terdapat rak di langit-langitnya untuk menyimpan pusaka dan benda berharga. Anak laki-laki tidur di panggung bawah bagian luar; anak perempuan tidur di atas bagian dalam panggung.

Untuk kegiatan memasak, bagian dalam rumah berisi tungku yang berada di sisi sebelah kanan yang dilengkapi rak-rak untuk menyimpan dan mengeringkan jagung. Kayu bakar disimpan di belakang rumah, kadang juga disimpan di bawah panggung.

Tradisi dan Seni

Dari sejarahnya yang panjang, Suku Sasak bisa saja diidentifikasikan sebagai budaya yang banyak mendapat pengaruh dari Jawa dan Bali. Namun, kenyataannya kebudayaan Suku Sasak memiliki corak dan ciri budaya yang khas, asli dan sangat mapan hingga berbeda dengan budaya suku-suku lainnya di Nusantara.

Berikut beberapa jenis seni dan tradisi yang cukup terkenal dari suku Sasak:

Bau Nyale

Nyale adalah sejenis binatang laut, termasuk jenis cacing (anelida) yang berkembang biak dengan bertelur. Dalam alam kepercaan Suku Sasak, Nyale bukan sekedar binatang, beberapa legenda dari Suku ini yang menceritakan tentang putri yang menjelma menjadi Nyale. Lainnya menyatakan bahwa Nyale adalah binatang anugerah, bahkan keberadaannya dihubungkan dengan kesuburan dan keselamatan.

Ritual Bau Nyale atau menangkap nyale digelar setahun sekali. Biasanya pada tanggal 19 atau 20 pada bulan ke-10 atau ke-11 menurut perhitungan tahun suku Sasak, kurang lebih berkisar antara bulan Februari atau Maret.

Rebo Bontong

Suku Sasak percaya bahwa hari Rebo Bontong merupakan hari puncak terjadi bencana dan atau penyakit (Bala) sehingga bagi mereka sesuatu yang tabu jika memulai pekerjaan tepat pada hari Rebo Bontong. Kata Rebo dan juga Bontong kurang lebih artinya “putus” atau “pemutus”.
Upacara Rebo Bontong dimaksudkan untuk dapat menghindari bencana atau penyakit. Upacara ini digelar setahun sekali yaitu pada hari Rabu di minggu terakhir bulan Safar dalam kalender Hijriah.

Bebubus Batu

Dari kata “bubus”, yaitu sejenis ramuan obat berbahan dasar beras yang dicampur berbagai jenis tanaman, dan dari kata batu yang merujuk kepada batu tempat melaksanakan upacara.Bebubus Batu adalah upacara yang digelar untuk meminta berkah kepada sang Kuasa. Upacara ini dilaksanakan tiap tahun, dipimpin oleh Penghulu (pemangku adat) dan Kiai (ahli agama). Masyarakat ramai-ramai mengenakan pakaian adat serta membawa dulang, sesajen dari hasil bumi.

Sabuk Beleq Merujuk kepada sebuah pustaka sabuk yang besar (Beleq) bahkan panjangnya mencapai 25 meter, masyarakat Lombok khususnya mereka yang berada di wilayah Lenek Daya akan menggelar upacara pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun Hijriah. Tradisi pengeluaran Sabuk Bleeq ini mereka awali dengan mengusung Sabuk Beleq mengelilingi kampung diiringi dengan tetabuhan gendang beleq. Ritual upacara kemudian dilanjutkan dengan menggelar praja mulud hingga diakhiri dengan memberi makan berbagai jenis makhluk. Upacara ini dilakukan untuk mempererat ikatan persaudaraan, persatuan dan gotong royong antar masyarakat, serta cinta kasih di antara makhluk Tuhan.

Lomba Memaos

Memaos kurang lebih artinya membaca dan orang yang membaca di sebut pepaos. Lomba memaos adalah lomba untuk membaca lontar yang menceritakan hikayat dari leluhur mereka. Tujuan lomba pembacaan cerita ini adalah agar generasi selanjutnya dapat mengetahui kebudayaan dan sejarah masa lalu. Selain itu, Lomba ini juga dapat berfungsi sebagai regenerasi nilai-nilai sosia, budaya, dan tradisi pada generasi penerus. Satu kelompok pepaos biasanya terdiri dari 3-4 orang; pembaca, pejangga, dan pendukung vokal.

Tandang Mendet

Tandang Mendet adalah tarian perang Suku Sasak. Konon Tarian ini telah ada sejak zaman Kerajaan Selaparang. Tarian yang menggambarkan keperkasaan dan perjuangan ini dimainkan oleh belasan orang dengan berpakaian dan membawa alat-alat keprajuritan lenggap; kelewang (pedang), tameng, tombak. Tarian diiringi dengan hentakan gendang beleq serta pembacaan syair-syair perjuangan.

Peresean

Peresean suku sasak lombok

Kadang ada yang menulisnya Periseian dan atau Presean adalah seni bela diri yang dulu digunakan oleh lingkungan kerajaan. Peresean awalnya adalah latihan pedang dan perisai bagi seorang prajurit. Pada perkembangannya, latihan ini menjadi pertunjukan rakyat untuk menguji ketangkasan dan “keberanian”.

Senjata yang digunakan adalah sebilah rotan yang dilapisi pecahan kaca. Dan untuk menangkis serangan, pepadu (pemain) biasanya membawa sebuah perisai (ende) yan terbuat dari kayu berlapis kulit lembu atau kerbau. Setiap pepadu memakai ikat kepala dan mengenakan kain panjang.
Festival peresean diadakan setiap tahun terutama di Kabupaten Lombok Timur yang akan diikuti oleh pepadu dari seluruh Pulau Lombok.

Begasingan

Permainan rakyat yang mempunyai unsur seni dan olahraga, bahkan termasuk permainan tradisional yang tergolong tua di masyarakat Sasak. Permainan tradisional ini juga dikenal di beberapa wilayah lain di Indonesia. Hanya saja, Gasing orang sasak ini berbeda baik bentuk maupun aturan permainannya. Gasing besar, mereka namai pemantok, digunakan untuk menghantam gasingpengorong atau pelepas yang ukurannya lebih kecil.

Begasingan berasal dari kata gang yang artinya “lokasi”, dan dari kata sing artinya “suara”. Permainan tradisional ini tak mengenal umur dan tempat, bisa siapa saja, bisa di mana saja.

Alat Musik

Slober

Alat musik tradisional Lombok yang cukup tua, unik, dan bersahaja. Slober dibuat dari pelepah enau dan ketika dimainkan alat musik ini biasanya didukung dengan alat musik lainnya seperti gendang, gambus, seruling, dll. Kesenian yang masih dapat anda saksikan hingga saat ini, sangat asyik jika dimainkan ketika malam bulan purnama.

Gendang Beleq

Satu dari kesenian Lombok yang mendunia. Gendang Beleq merupakan pertunjukan dengan alat perkusi gendang berukuran besar (Beleq) sebagai ensembel utamanya. Komposisi musiknya dapat dimainkan dengan posisi duduk, berdiri, dan berjalan untuk mengarak iring-iringan.
Ada dua jenis gendang beleq yang berfungsi sebagai pembawa dinamika yaitu gendang laki-laki atau gendang mama dan gendang nina atau gendang perempuan).

Sebagai pembawa melodi adalah gendang kodeq atau gendang kecil. Sedangkan sebagai alat ritmis adalah dua buah reog, 6-8 buah perembak kodeq, sebuah petuk, sebuah gong besar, sebuah gong penyentak, sebuah gong oncer, dan dua buah lelontek. Menurut cerita, gendang beleq dahulu dimainkan bila ada pesta-pesta yang diselenggarakan oleh pihak kerajaan. Bila terjadi perang gendang ini berfungsi sebagai penyemangat prajurit yang ikut berperang.

Sumber referensi:
https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Sasak
http://www.wacananusantara.org/sejarah-dan-tradisi-suku-sasak/

Tuesday, December 8, 2015

Tarian Bali Jadi Warisan Budaya Dunia

9 Tarian Bali Jadi Warisan Budaya Dunia UNESCO
@alamraya-street.blogspot.com
Bali terkenal dengan kebudayaannya yang masih sangat kental. Mulai dari tari-tarian, tradisi bahkan keseniannya sangat terkenal diseluruh dunia. Sehingga banyak wisatawan yang senang mengunjungi pulau dewata ini. Tidak hanya itu pemandangan alamnya pun menjadi salah satu daya Tarik utama.

Karena tari-tariannya yang sangat unik, ada beberapa tarian di bali yang dijadikan sebagai warisan budaya Unesco. Badan PBB untuk urusan Budaya (UNESCO) menetapkan sembilan tarian tradisi Bali sebagai Warisan Budaya Dunia Tak Benda (WBD-TB) secara aklamasi. Penetapan warisan budaya ini dilakukan secara resmi dalam sidang UNESCO di Windoek Nambia, Afrika Selatan yang dilaksanakan pada 1-2 Desember 2015.

Tari yang dipilih berjumlah 9 jenis yang dianggap mewakili seluruh tarian Bali yang dimiliki oleh masyarakat Bali, baik yang tinggal di Pulau Bali maupun yang tinggal di luar Bali. Saat ini banyak masyarakat Bali yang tersebar diberbagai kepulauan Nusantara dan bahkan diluar negeri. Namun mereka yang merantau tidak begitu saja melupakan kebudayaan tradisi mereka. Hal ini terbukti dengan banyaknya orang Bali yang kerap menampilkan tari-tariannya di luar Bali bahkan di luar negeri.

Berikut adalah 9 tari-tarian dari Bali yang ditetapkan jadi Warisan Budaya Dunia UNESCO:

1. Tari Rejang dari Kabupaten Klungkung,
2. Tari Sanghyang Dedari asal Kabupaten Karangasem,
3. Tari Basis Upacara asal Kabupaten Bangli,
4. Tari Topeng Sidhakarva atau Topeng Pajegan dari Kabupaten Tabanan,
5. Tari Gambuh dari Kabupaten Gianyar,
6. Drama Tari Wayang Wong dari Kabupaten Buleleng,
7. Tari Bebali, Tari Legong Keraton dari Denpasar,
8. Tari Joged Bumbung asal Kabupaten Jembrana, dan
9. Tari Barong Ket Kuntisraya asal Kabupaten Badung.

Sumber referensi:

Dream.co.id

Tuesday, August 18, 2015

Tradisi Lompat Batu (Fahombo) Suku Nias Sumatera

Tradisi Lompat Batu Suku Nias Sumatera

Tradisi Lompat Batu Suku Nias Sumatera. Anda masih mengingat uang kertas Rp. 1000 cetakan tahun 1992 yang bergambar seseorang sedang melompati batu? Ternyata itu merupakan sebuah tradisi suku Nias. Tradisi tersebut disebut dengan Fahombo, Hombo Batu atau dalam bahasa Indonesia "Lompat Batu".

Maksud dari olah raga tradisi lompat batu tersebut merupakan ritual pendewasaan Suku Nias. Selain sebagai sebuah tradisi, ternyata juga menjadi objek wisata tradisional unik yang teraneh hingga ke seluruh dunia. Batu yang akan dijadikan sebagai tempat untuk dilompati disusun hingga mencapai 2 meter dengan ketebalan 40 cm.

Sejarah dan Makna Tradisi Lompat Batu

Dahulu, pemuda suku Nias akan mencoba tradisi fahombo atau melompati batu setinggi lebih dari 2 meter. Jika pemuda tersebut berhasil mereka akan dianggap telah menjadi lelaki dewasa dan dapat bergabung sebagai prajurit untuk berperang dan menikah.

Mereka mencoba mempersiapkan diri untuk melakukan tradisi fahombo ini sejak usia 10 tahun, anak lelaki akan bersiap untuk melakukan giliran "fahombo". Ritual fahombo ini sangat dianggap serius dalam adat Nias. Dengan menggunakan busana penjuang suku Nias, mereka harus dapat melompati batu tersebut untuk mendapatkan status kedewasaan. Jika berhasil mereka menandakan bahwa mereka telah siap bertempur dan memikul tanggung jawab sebagai laki-laki dewasa.

Di masa lampau, bagian atas papan batu ditutupi dengan paku dan bambu runcing. Sehingga calon pelompat akan melakukannya dengan serius. Secara taktis dalam peperangan, tradisi fahombo ini juga berarti melatih prajurit muda untuk tangkas dan gesit dalam melompati dinding pertahanan musuh mereka, dengan obor di satu tangan dan pedang di malam hari.

Bentuk batu Fahombo

Bentuk batu yang harus dilompati dalam fahombo seperti sebuah monumen piramida dengan permukaan atas datar. Tingginya tidak kurang dari 2 meter, dengan lebar 90 cm, dan panjang 60 cm.
Mereka yang akan melakukan tradisi lompat batu juga harus mempelajari teknik mendarat. Karena jika mendarat dalam posisi yang salah dapat menyebabkan cedera, baik itu cedera otot ataupun patah tulang.

Thursday, June 11, 2015

Sejarah dan Kebudayaan suku Dampelas Asal Sulawesi Tengah

soso dalam festival danau Dampelas acara adat suku Dampelas

Sejarah dan Kebudayaan suku Dampelas Asal Sulawesi Tengah. Suku Dampelas atau biasa disebut juga Dampeles adalah etnis suku yang mendiami kecamatan Dampeles Sojo kabupaten Buol dan kabupaten Toli-Toli di provinsi Sulawesi Tengah. Suku ini terkenal karena memiliki benda-benda pusaka sakti dan berkhasiat untuk menghadapi musuh. Menurut suku Dampelas, orang yang memakai benda-benda pusaka itu akan menjadi kebal dan tidak mempan terhadap guna-guna (santet) dan ilmu hitam lainnya.

Sistem kepercayaan

Sebagian besar masyarakat Dampelas memeluk agama Islam namun masih banyak dari mereka yang masih percaya dengan hal-hal yang berbau animisme, seperti mempercayai makhluk gaib dan tempat-tempat keramat yang dianggap bisa mempengaruhi keadaan hidup mereka.

Adat istiadat

Suku Dampelas memiliki beberapa upacara adat, yaitu:

1. Mogupas

Mogupas merupakan tradisi upacara kematian yang merupakan kombinasi antara adat tradisional dengan agama yang mereka anut, yaitu upacara adat sebagai penghormatan terakhir bagi orang yang meninggal.

2. Moguto Bwuiyano dan Mobuso

Upacara adat untuk mengusir wabah dan penyakit kronis.

3. Monilam dan Malead
kedua upacara adat ini digabungkan dan untuk meratakan gigi remaja putri.

4. Moduai dan upacara adat menyambut tamu.

Mata pencaharian

Mata pencaharian suku Dampelas terdapat dalam berbagai bidang kegiatan, seperti bertani. Namun cara bertani masih menggunakan cara-cara lama, yaitu dengan cara berpindah-pindah lahan pertanian. Selain itu mereka memanfaatkan hutan untuk mengumpulkan hasil hutan, seperti mengumpul hasil rotan, damar dan kayu, dan juga melakukan perburuan terhadap binatang-binatang liar yang mereka temui di dalam hutan. Di sekitar perkampungan, mereka memiliki kebun yang ditanami kopra dan cengkeh. Selain itu mereka ahli meramu berbagai jenis obat-obatan tradisional.

Kerajinan

Suku Dampelas sangat trampil dalam membuat beberapa jenis kerajinan, seperti kain tenun sutra dan bonja lipuku dan kerajinan cengkeh khas Toli-Toli.


Saturday, March 28, 2015

Koteka Pakaian Adat Asal Papua

Mengenal Pembuatan Koteka Pakaian Adat Asal Papua
Koteka (photo:indonesiaindonesia.com)
Setiap suku mempunyai baju adat tersendiri, dan beberapa diantaranya sangat unik. Salah satu pakaian adat yang unik adalah Koteka yang berasal dari masyarakat papua. Masyarakat pedalaman papua masih banyak yang menggunakan koteka, namun sudah ada beberapa dari mereka yang telah menggunakan celana sebagai pengganti koteka.

Karena merupakan pakaian tradisional yang unik, baiknya kita mengetahui asal pembuatan koteka tersebut. Maximus Tipigau selaku pengelola wisata Carstensz menjelaskan bahwa proses pembuatan koteka bisa satu sampai dua minggu. Berikut prosesnya seperti yang dilansir Okezone.com:
Bahan baku koteka adalah Labu air, sehingga untuk membuatnya perlu ditanam bibit labu air tesebut. Setelah buah labu matang, kita bisa memetiknya ditanam kembali di digundukan pasir dan dibakar beberapa menit.

“Jadi, biasanya mereka (masyarakat Papua) tanam itu buah labu di dalam gundukan pasir dan dibakar, sehingga kulitnya cepat kering dan bijinya mudah dikeluarkan,” ujarnya Maximus Tipigau seperti dilansir Okezone.com.

Selanjutnya, ruas kulit labu dibersihkan dan dikeringkan di atas perapian. Setelah itu, kita bisa menambahkannya anyaman-anyaman sesuai dengan kreatifitas sampai menjadi satu buah koteka.

Ada beberapa jenis koteka tergantung dari fungsinya. Koteka yang berukuran pendek biasanya digunakan untuk melakukan aktifitas hari-hari. Sedangkan koteka yang berukuran panjang biasa digunakan saat menghadiri upacara adat.

Nah itulah penjelasan singkat cara pembuatan koteka yang merupakan pakaian adat tradisional masyarakat papua.

Wednesday, February 11, 2015

4 Tradisi Pemakaman Unik Suku di Indonesia

4 Tradisi Pemakaman Unik Suku di Indonesia. Indonesia terdiri dari beribu-ribu pulau dan bermacam-macam suku bangsa. Dari beberapa suku bangsa tersebut, masing-masing memiliki tradisi yang unik. Salah satunya adalah tradisi dalam pemakaman manusia.

Tradisi pemakaman merupakan salah satu ritual yang begitu sacral, sehingga ada beberapa suku bangsa di Indonesia yang melakukan ritual dengan cara yang unik.

1. Suku Bali, Membiarkan Jenazah di Atas Tanah

Suku Bali, Membiarkan Jenazah di Atas Tanah
Kuburan Trunyan (wikimedia)
Bali merupakan salah satu pulau yang terkenal dengan wisata dan kebudayaannya. Di Bali ritual pemakamannya prosesi upacara kremasi saat kematian disebut dengan Ngaben. Tetapi bagi penduduk di Kabupaten Bangli, masyarakat tidak melakukan kremasi saat kematian, namun mereka membiarkan jenazah diatas tanah di Kuburan Trunyan yang lokasinya berada di dekat Danau Batur. Sehingga akan dijumpai tulang-tulang yang berserakan di banyak tempat.

2. Suku Toraja Sulawesi Selatan dengan ritual Rambu Solo

Suku Toraja Sulawesi Selatan dengan ritual Rambu Solo
Tradisi Rambu Solo Toraja (tempo.co)
Suku Toraja memiliki tradisi pemakaman kematian yang cukup khas, yang disebut dengan Rambu Solo. Dalam ritual tradisi ini cukup banyak mengeluarkan biaya. Ritual ini digelar sebagai tanda penghormatan terakhir kepada warga yang telah meninggal.

Setelah melakukan prosesi acara, jenazah diusung menggunakan tongkonan yang merupakan rumah adat khas Toraja dan dibawa menuju makam-makam di tebing dan gua. Kemudian juga dibuatkan boneka kayu yang dibuat semirip sosok yang meninggal dunia dan diletakkan di dekat makam jenazah.

3. Jawa Timur, Ritual Brobosan

Jawa Timur, Ritual Brobosan
Tradisi Brobosan (news.detik.com)
Untuk daerah jawa timur, upacara kematian disebut dengan Brobosan. Dalam tradisi ini seluruh anggota keluarga mendiang, berjalan mengelilingi bawah keranda jenazah yang diangkat sebanyak tiga kali. Hal ini dimaksudkan sebagai penghormatan pada mendiang dan untuk mengenang masa hidupnya. Setelah semua keluarga mengitari keranda, jenazah langsung dikebumikan.

4. Sumatera Utara, Ritual Saur Matua

Sumatera Utara, Ritual Saur Matua
Saur Matua, Adat Batak (herlina.org)
Di Sumatera Utara, ritual kematian disebut juga dengan Saur Matua yang merupakan ritual upacara penghormatan terakhir yang dilakukan suku Batak pada mendiang. Upacara adat ini dilakukan jika semua anak dari mendiang telah menikah.

Uniknya tangan dari jenazah tidak diletakkan di depan dada, tetapi tangan dari mendiang diletakkan di samping badan. Prosesi Saur Matua ini dilakukan sebagai penghormatan bagi mendiang, karena telah mendidik anak-anaknya dengan baik, hingga menikah.

Itulah tradisi unik mengenai pemakaman yang dilakukan beberapa suku yang ada di Indonesia. Semoga bermanfaat.

Tuesday, January 27, 2015

12 Suku Di Provinsi Aceh

12 Suku bangsa yang terdapat di provinsi Aceh
peta aceh (foto:wikipedia)
Provinsi Aceh terletak di ujung utara pulau Sumatera dan lokasinya paling barat di Indonesia. Ibu kotanya adalah Banda Aceh. Dahulu kesultanan Aceh adalah negara terkaya, terkuat, dan termakmur di kawasan Selat Malaka. Di provinsi Aceh juga terdapat 12 jenis suku yang menempatinya. Ke 12 suku tersebut adalah;


1. Suku Aceh

Suku ini mendiami ujung utara Sumatra dan menganut agama Islam. Mereka menggunakan bahasa Aceh yang masih berkerabat dengan bahasa Mon Khmer (wilayah Champa). Bahasa Aceh merupakan bagian dari bahasa Melayu-Polynesia barat, cabang dari keluarga bahasa Austronesia. Suku Aceh merupakan suku di Indonesia yang pertama memeluk Islam dan mendirikan kerajaan Islam. Masyarakat Aceh mayoritas bekerja sebagai petani, pekerja tambang, dan nelayan.

2. Suku Aneuk Jamee

Secara harfiah, istilah Aneuk Jamee berasal dari Bahasa Aceh yang berarti “anak tamu”. Suku ini tersebar di sepanjang pesisir barat dan selatan Aceh. Bahasa yang digunakan bahasa Aneuk Jamee, masih merupakan dialek dari bahasa Minangkabau. Namun, Bahasa Aneuk Jamee hanya dituturkan di kalangan orang-orang tua saja dan saat ini umumnya mereka lebih menggunakan Bahasa Aceh sebagai bahasa pergaulan sehari-hari.

3. Suku Alas

Suku ini bermukim di Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh yang biasa juga disebut Tanah Alas. Agama yang dianut adalah agama islam. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Alas. Asal kata “alas” dalam bahasa Alas berarti “tikar”. Hal ini ada kaitannya dengan keadaan daerah itu yang membentang datar seperti tikar di sela-sela Bukit Barisan. Daerah Tanah Alas dilalui banyak sungai, salah satu di antaranya adalah Lawe Alas (Sungai Alas).

4. Suku Batak Pakpak

Suku Pakpak tersebar di beberapa kabupaten/kota di Sumatera Utara dan Aceh, yakni di Kabupaten Dairi, Kabupaten Pakpak Bharat, Kabupaten Humbang Hasundutan( Sumatera Utara), Kabupaten Aceh Singkil dan Kota Sabulusalam. Suku bangsa Pakpak kemungkinan besar berasal dari keturunan tentara kerajaan Chola di India yang menyerang kerajaan Sriwijaya pada abad 11 Masehi
Suku ini terdiri atas 5 subsuku, yang dalam istilah setempat disebut dengan istilah Pakpak Silima suak yang terdiri dari :

Pakpak Klasen (Kab. Humbang Hasundutan Sumut)
Pakpak Simsim (Kab. Pakpak Bharat-sumut)
Pakpak Boang (Kab. Singkil dan kota Sabulusalam-Aceh)
Pakpak Pegagan (Kab. Dairi-sumut)
Pakpak Keppas (Kab. Dairi sumut)

Suku bangsa Pakpak mendiami bagian Utara, Barat Laut Danau Toba hingga perbatasan Sumatra Utara dengan provinsi Aceh (selatan).

5. Suku Devayan
Suku Devayan mendiami Pulau Simeulue, juga di kecamatan Teupah Barat, Simeulue Timur, Simeulue Tengah, Teupah Selatan dan Teluk Dalam.

6. Suku Gayo

Suku Gayo mendiami dataran tinggi Gayo di Aceh. Mayoritas suku ini terdapat di kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues dan 3 kecamatan di Aceh Timur, yaitu kecamatan Serbe Jadi, Peunaron dan Simpang Jernih. Selain itu suku Gayo juga mendiami beberapa desa di kabupaten Aceh Tamiang dan Aceh Tenggara.

Agama yang dianut Suku Gayo adalah agama Islam dan mereka dikenal taat dalam agamanya. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Gayo.

7. Suku Haloban

Suku Haloban terdapat di kabupaten Aceh Singkil, tepatnya di kecamatan Pulau Banyak. Di kecamatan Pulau Banyak terdapat 7 desa dengan ibukota kecamatan terletak di desa Pulau Balai.

8. Suku Kluet

Suku Kluet mendiami beberapa kecamatan di kabupaten Aceh Selatan, yaitu kecamatan Kluet Utara, Kluet Selatan, Kluet Tengah, dan Kluet Timur.

9. Suku Lekon

Suku Lekon terdapat di kecamatan Alafan, Simeulue di provinsi Aceh dan terdapat di desa Lafakha dan dan Langi.

10. Suku Singkil

Suku Singkil terdapat di kabupaten Aceh Singkil daratan dan kota Subulussalam di propinsi Aceh. Namun, kedudukan suku Singkil sampai saat ini masih diperdebatkan, apakah suku ini termasuk dalam suku Pakpak suak Boang atau berdiri sebagai satu suku yang tersendiri terpisah dari suku Pakpak.

11. Suku Sigulai

Suku Sigulai mendiami Pulau Simeulue bagian utara dan terdapat di kecamatan Simeulue Barat, Alafan dan Salang.

12. Suku Tamiang

Suku Tamiang mendiami kabupaten Aceh Tamiang, termaksud suku melayu dan lebih sering disebut Melayu Tamiang. Suku ini mempunyai kesamaan dialek dan bahasa dengan masyarakat Melayu yang tinggal di kabupaten Langkat, Sumatera Utara serta berbeda dengan masyarakat Aceh. Meski demikian suku ini telah sekian abad menjadi bagian dari Aceh. Kebudayaan suku ini juga sama dengan masyarakat Melayu pesisir timur Sumatera lainnya.

Tuesday, February 26, 2013

Ragam Seni dan Budaya Indonesia

Sejarah Keaneka ragaman seni dan budaya Indonesia
Indonesia kaya akan ragam seni budaya sudah semestinya Indonesia berbangga, maka sudah selayaknya bagi bangsa dan masyarakat negeri ini untuk melestarikan dan menjaga ragam seni budaya yang ada di Indonesia ini. Jadi tidak mustahil jika banyak hasil cipta rasa dan karya dalam berbagai adat dan ragam seni budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia ini selalu dilirik oleh bangsa lain. Kebudayaan nasional adalah kebudayaan yang diakui sebagai identitas nasional.
Dalam pembahasan ragam seni budaya mempunyai pengertian  untuk Seni budaya berasal dari dua suku kata Seni - Budaya. Untuk kata Budaya berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal yang diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Tapi semua terangkum menjadi satu yaitu sebuah ragam seni budaya yang ber- BINEKA TUNGGAL IKA dengan menunjukkan adat ketimuran dan berasaskan Pancasila. Secara devinisi budaya dapat di artikan sebegai tata cara hidup manusia yang dilakukan secara kelompok atau masyarakat, dan di wariskan turun-temurun dari generasi ke generasi.
Sedangkan Seni adalah ide atau gagasan proses dari sebuah pemikiran manusia, dan oleh karena itu merupakan sinonim dari ilmu. Dewasa ini, seni bisa dilihat dalam intisari ekspresi dan sebuah cipta rasa manusia dalam kreatifitas. Seni sangat sulit untuk dijelaskan dan juga sulit dinilai, disebab masing-masing individu manusia mempunyai cita rasa yang berbeda antara satu dengan yang lainnya.
Beberapa para ahli devinisi mengartikan bahwa seni merupakan sebuah aktifitas dalam perbuatan yang timbul dan bersifat indah, menyenangkan dan dapat memberi kepuasan tersendiri dalam jiwa suatu manusia. Sebuah seni juga bisa kita gambarkan dari sebuah penjiwaan yang dalam, dan berbeda antara orang satu dengan yang lainnya.
Kebudayaan di Indonesia
Keanekaragaman budaya Indonesia dariSabang sampai Merauke merupakan aset yang tidak ternilai harganya, sehingga harus tetap dipertahankan dan terus dilestarikan. Tetapi, sayangnya, sebagai anak bangsa masih banyak yang tidak mengetahui ragam budaya daerah lain di Indonesia, salah satunya budaya tato di Mentawai, Sumatra Barat, tindik sebagai tanda kedewasaan dan masih banyak kebudayaan lain yang belum ter ekdplorasi.
Bagi penyuka traveling ke berbagai daerah di Indonesia, khususnya yang rasa ingintahunya cukup tinggi terhadap beragam budaya, tidak ada salahnya mampir ke Mentawai untuk melihat dari dekat budaya tato yang sudah menjadi kebudayaan masyarakat setempat, selain menikmati sajian pesona alam dan lautnya.
Tato kebudayaan indonesia
Dalam konteks pemahaman masyarakat majemuk, selain kebudayaan kelompok suku bangsa, masyarakat Indonesia juga terdiri dari berbagai kebudayaan daerah bersifat kewilayahan yang merupakan pertemuan dari berbagai kebudayaan kelompok sukubangsa yang ada didaerah tersebut. Dengan jumlah penduduk 200 juta orang dimana mereka tinggal tersebar dipulau- pulau di Indonesia. Mereka juga mendiami dalam wilayah dengan kondisi geografis yang bervariasi. Mulai dari pegunungan, tepian hutan, pesisir, dataran rendah, pedesaan, hingga perkotaan. Hal ini juga berkaitan dengan tingkat peradaban kelompok-kelompok sukubangsa dan masyarakat di Indonesia yang berbeda.
Contoh dari kebudayaan rakyat pesisir adalah pesta laut yang dipersembahkan untuk para leluhur
Pesta laut
Masyarakat pesisir indonesia
Dari berbagai kebudayaan yang ada sebagai generasi muda Indonesia patutnya kita bangga dan berusaha menghalau budaya-budaya luar yang mampu menggerus kearifan budaya lokal Indonesia dengan semangat juang dan nilai dasar Pancasila.

Ragam Seni dan Budaya Indonesia 


 » Rumah Adat
Nuwo Sesat, Rumah Adat Lampung

Nama-nama rumah adat dan Provinsinya:
  • Nanggro Aceh Darussalam (NAD)
                  Rumah Adat : Rumah Krong Bade
  • Sumatera Utara (SUMUT) 
                  Rumah Adat : Rumah Bolon
  •  Sumatera Barat  
                  Rumah Adat : Rumah Gadang
  • Riau       
                   Rumah Adat : Rumah Melayu Selaso Jatuh Kembar
  • Jambi
                   Rumah Adat : Rumah Panjang
  • Sumatera Selatan (SUMSEL)
                     Rumah Adat : Rumah Limas
  • Bangka Belitung
                      Rumah Adat : Rumah Rakit
  • Bengkulu
                      Rumah Adat : Rumah Rakyat
  • Lampung
                    Rumah Adat : Rumah Sesat
  • DKI Jakarta
                 Rumah Adat : Rumah Kebaya
  • Jawa Barat (JABAR)
                 Rumah Adat : Rumah Kasepuhan Cirebon
  • Banten     Rumah Adat : Rumah Badui
  • Jawa Tengah (JATENG)
             Rumah Adat : Padepokan Jawa Tengah.
  • Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta
            Rumah Adat : Bangsal Kencono Dan Rumah Joglo.
  • Jawa Timur (JATIM)
           Rumah Adat : Rumah Situbondo.

  • Bali
        Rumah Adat : Rumah Gapura Candi Bentar.
  • Nusa Tenggara Barat (NTB)
        Rumah Adat : Rumah Istana Sultan Sumbawa
  • Nusa Tenggara Timur (NTT)
         Rumah Adat : Rumah Musalaki
  • Kalimantan Utara (KALTARA)
        Rumah Adat : Rumah Baloy.
  •  Kalimantan Barat (KALBAR)
           Rumah Adat : Rumah Istana Kesultanan Pontianak.
  • Kalimantan Tengah (KALTENG)
            Rumah Adat : Rumah Betang
  • Kalimantan Selatan (KALSEL)
            Rumah Adat : Rumah Banjar Bubungan Tinggi.
  • Kalimantan Timur (KALTIM)
             Rumah Adat : Rumah Lamin.
  • Sulawesi Utara (SULUT)
             Rumah Adat : Rumah Pewaris
  • Sulawesi Barat (SULBAR)
            Rumah Adat : Rumah Tongkonan
  • Sulawesi Tengah (SULTENG)
            Rumah Adat : Rumah Tambi
  • Sulawesi Tenggara (SULTRA)
            Rumah Adat : Rumah Istana Buton
  • Sulawesi Selatan (SULSEL)
             Rumah Adat : Rumah Tongkonan.
  • Gorontalo
             Rumah Adat : Rumah Dulohupa dan Rumah Pewaris.
  • Maluku
             Rumah Adat : Rumah Baileo
  • Papua Barat
            Rumah Adat : Rumah Honai.
  •  Papua                 Rumah Adat : Rumah Honai

    Sumber :http://organisasi.org/daftar-nama-rumah-adat-daerah-di-indonesia-dan-asal provinsi-ibu-kota

Macam-macam Seni di Indonesia


» Alat Musik
     Alat musik di Indonesia sebenarnya sangat banyak macamnya, contoh saja seperti gendang dari yogyakarta, gamelan dari jawa tengah, Angklung dari jawa barat, bende dari lampung dan masih banyak lagi.
tapi heranya kenapa sekarang orang indonesia sudah jarang ada yang memainkan alat musik tersebut, alat musik tersebut dipakai kalau hanya ada acara besar saja atau di peruntuhkan untuk anak sekolah dasar. harusnya sebagai orang indonesia kita ikut mewarisi budaya-budaya yang telah ada agar budaya tersebut tidak hilang karna adanya budaya asing yang masuk.
          
Gendang, Yogyakarta                                               Angklung, Jawa Barat

>> Tarian 
     Tarian Indonesia mencerminkan kekayaan dan keanekaragaman suku bangsa dan budaya Indonesia.tetapi kebanyakan dari orang indonesia sudah terpengaruh oleh budaya asing atau luar. setiap suku bangsa di Indonesia pasti memmpunyai tarian khas daerahnya sendiri-sendiri. Tradisi kuno tarian dan drama ini biasanya diajarkan seperti di sanggar-sanggar tari dan juga sekolah.
Seni tari di indonesia juga bisa masuk kedalam beberapa golongan, Dalam katagori sejarah, seni tari Indonesia dapat dibagi ke dalam tiga era: era kesukuan prasejarah, era Hindu-Buddha, dan era Islam. Berdasarkan pelindung dan pendukungnya, dapat terbagi dalam dua kelompok, tari keraton (tari istana) yang didukung kaum bangsawan, dan tari rakyat yang tumbuh dari rakyat kebanyakan. Berdasarkan tradisinya, tarian Indonesia dibagi dalam dua kelompok; tari tradisional dan tari kontemporer.
contoh gambar tarian bercorak prasejarah dari suku pedalaman 

Tari keraton

Tari Golek Ayun-ayun, dari KeratonYogyakarta
Tarian di Indonesia mencerminkan sejarah panjang Indonesia. Beberapa keluarga bangsawan; berbagai istana dan keraton yang hingga kini masih bertahan di berbagai bagian Indonesia menjadi benteng pelindung dan pelestari budaya istana. Perbedaan paling jelas antara tarian istana dengan tarian rakyat tampak dalam tradisi tari Jawa. Masyarakat Jawa yang berlapis-lapis dan bertingkat tercermin dalam budayanya. Jika golongan bangsawan kelas atas lebih memperhatikan pada kehalusan, unsur spiritual, keluhuran, dan keadiluhungan; masyarakat kebanyakan lebih memperhatikan unsur hiburan dan sosial dari tarian. Sebagai akibatnya tarian istana lebih ketat dan memiliki seperangkat aturan dan disiplin yang dipertahankan dari generasi ke generasi, sementara tari rakyat lebih bebas, dan terbuka atas berbagai pengaruh.
Perlindungan kerajaan atas seni dan budaya istana umumnya digalakkan oleh pranata kerajaan sebagai penjaga dan pelindung tradisi mereka. Misalnya para Sultan dan Sunan dari Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta terkenal sebagai pencipta berbagai tarian keraton lengkap dengan komposisi gamelan pengiring tarian tersebut.

Tari rakyat


Tari Jaipongan, tari tradisi rakyat Sunda

Tarian Indonesia menunjukkan kompleksitas sosial dan pelapisan tingkatan sosial dari masyarakatnya, yang juga menunjukkan kelas sosial dan derajat kehalusannya. Berdasarkan pelindung dan pendukungya, tari rakyat adalah tari yang dikembangkan dan didukung oleh rakyat kebanyakan, baik di pedesaan maupun di perkotaan. Dibandingkan dengan tari istana (keraton) yang dikembangkan dan dilindungi oleh pihak istana, tari rakyat Indonesia lebih dinamis, enerjik, dan relatif lebih bebas dari aturan yang ketat dan disiplin tertentu, meskipun demikian beberapa langgam gerakan atau sikap tubuh yang khas seringkali tetap dipertahankan. Tari rakyat lebih memperhatikan fungsi hiburan dan sosial pergaulannya daripada fungsi ritual.

Tari tradisional
TARI SIGEH PENGUTEN

Tari tradisional Indonesia mencerminkan kekayaan dan keanekaragaman bangsa Indonesia. Beberapa tradisi seni tari seperti; tarian Bali, tarian Jawa, tarian Sunda, tarian Minangkabau, tarian Palembang, tarian Melayu, tarian Aceh, dan masih banyak lagi adalah seni tari yang berkembang sejak dahulu kala, meskipun demikian tari ini tetap dikembangkan hingga kini. Penciptaan tari dengan koreografi baru, tetapi masih di dalam kerangka disiplin tradisi tari tertentu masih dimungkinkan. Sebagai hasilnya, muncullah beberapa tari kreasi baru. Tari kreasi baru ini dapat merupakan penggalian kembali akar-akar budaya yang telah sirna, penafsiran baru, inspirasi atau eksplorasi seni baru atas seni tari tradisional.
Sekolah seni tertentu di Indonesia seperti Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) di Bandung, Institut Kesenian Jakarta (IKJ) di Jakarta, Institut Seni Indonesia (ISI) yang tersebar di Denpasar,Yogyakarta, dan Surakarta kesemuanya mendukung dan menggalakkan siswanya untuk mengeksplorasi dan mengembangkan seni tari tradisional di Indonesia. Beberapa festival tertentu seperti Festival Kesenian Bali dikenal sebagai ajang ternama bagi seniman tari Bali untuk menampilkan tari kreasi baru karya mereka.