Nusantara Indonesia

Tuesday, December 8, 2015

Tarian Bali Jadi Warisan Budaya Dunia

9 Tarian Bali Jadi Warisan Budaya Dunia UNESCO
@alamraya-street.blogspot.com
Bali terkenal dengan kebudayaannya yang masih sangat kental. Mulai dari tari-tarian, tradisi bahkan keseniannya sangat terkenal diseluruh dunia. Sehingga banyak wisatawan yang senang mengunjungi pulau dewata ini. Tidak hanya itu pemandangan alamnya pun menjadi salah satu daya Tarik utama.

Karena tari-tariannya yang sangat unik, ada beberapa tarian di bali yang dijadikan sebagai warisan budaya Unesco. Badan PBB untuk urusan Budaya (UNESCO) menetapkan sembilan tarian tradisi Bali sebagai Warisan Budaya Dunia Tak Benda (WBD-TB) secara aklamasi. Penetapan warisan budaya ini dilakukan secara resmi dalam sidang UNESCO di Windoek Nambia, Afrika Selatan yang dilaksanakan pada 1-2 Desember 2015.

Tari yang dipilih berjumlah 9 jenis yang dianggap mewakili seluruh tarian Bali yang dimiliki oleh masyarakat Bali, baik yang tinggal di Pulau Bali maupun yang tinggal di luar Bali. Saat ini banyak masyarakat Bali yang tersebar diberbagai kepulauan Nusantara dan bahkan diluar negeri. Namun mereka yang merantau tidak begitu saja melupakan kebudayaan tradisi mereka. Hal ini terbukti dengan banyaknya orang Bali yang kerap menampilkan tari-tariannya di luar Bali bahkan di luar negeri.

Berikut adalah 9 tari-tarian dari Bali yang ditetapkan jadi Warisan Budaya Dunia UNESCO:

1. Tari Rejang dari Kabupaten Klungkung,
2. Tari Sanghyang Dedari asal Kabupaten Karangasem,
3. Tari Basis Upacara asal Kabupaten Bangli,
4. Tari Topeng Sidhakarva atau Topeng Pajegan dari Kabupaten Tabanan,
5. Tari Gambuh dari Kabupaten Gianyar,
6. Drama Tari Wayang Wong dari Kabupaten Buleleng,
7. Tari Bebali, Tari Legong Keraton dari Denpasar,
8. Tari Joged Bumbung asal Kabupaten Jembrana, dan
9. Tari Barong Ket Kuntisraya asal Kabupaten Badung.

Sumber referensi:

Dream.co.id

Tuesday, August 18, 2015

Tradisi Lompat Batu (Fahombo) Suku Nias Sumatera

Tradisi Lompat Batu Suku Nias Sumatera

Tradisi Lompat Batu Suku Nias Sumatera. Anda masih mengingat uang kertas Rp. 1000 cetakan tahun 1992 yang bergambar seseorang sedang melompati batu? Ternyata itu merupakan sebuah tradisi suku Nias. Tradisi tersebut disebut dengan Fahombo, Hombo Batu atau dalam bahasa Indonesia "Lompat Batu".

Maksud dari olah raga tradisi lompat batu tersebut merupakan ritual pendewasaan Suku Nias. Selain sebagai sebuah tradisi, ternyata juga menjadi objek wisata tradisional unik yang teraneh hingga ke seluruh dunia. Batu yang akan dijadikan sebagai tempat untuk dilompati disusun hingga mencapai 2 meter dengan ketebalan 40 cm.

Sejarah dan Makna Tradisi Lompat Batu

Dahulu, pemuda suku Nias akan mencoba tradisi fahombo atau melompati batu setinggi lebih dari 2 meter. Jika pemuda tersebut berhasil mereka akan dianggap telah menjadi lelaki dewasa dan dapat bergabung sebagai prajurit untuk berperang dan menikah.

Mereka mencoba mempersiapkan diri untuk melakukan tradisi fahombo ini sejak usia 10 tahun, anak lelaki akan bersiap untuk melakukan giliran "fahombo". Ritual fahombo ini sangat dianggap serius dalam adat Nias. Dengan menggunakan busana penjuang suku Nias, mereka harus dapat melompati batu tersebut untuk mendapatkan status kedewasaan. Jika berhasil mereka menandakan bahwa mereka telah siap bertempur dan memikul tanggung jawab sebagai laki-laki dewasa.

Di masa lampau, bagian atas papan batu ditutupi dengan paku dan bambu runcing. Sehingga calon pelompat akan melakukannya dengan serius. Secara taktis dalam peperangan, tradisi fahombo ini juga berarti melatih prajurit muda untuk tangkas dan gesit dalam melompati dinding pertahanan musuh mereka, dengan obor di satu tangan dan pedang di malam hari.

Bentuk batu Fahombo

Bentuk batu yang harus dilompati dalam fahombo seperti sebuah monumen piramida dengan permukaan atas datar. Tingginya tidak kurang dari 2 meter, dengan lebar 90 cm, dan panjang 60 cm.
Mereka yang akan melakukan tradisi lompat batu juga harus mempelajari teknik mendarat. Karena jika mendarat dalam posisi yang salah dapat menyebabkan cedera, baik itu cedera otot ataupun patah tulang.

Thursday, June 11, 2015

Sejarah dan Kebudayaan suku Dampelas Asal Sulawesi Tengah

soso dalam festival danau Dampelas acara adat suku Dampelas

Sejarah dan Kebudayaan suku Dampelas Asal Sulawesi Tengah. Suku Dampelas atau biasa disebut juga Dampeles adalah etnis suku yang mendiami kecamatan Dampeles Sojo kabupaten Buol dan kabupaten Toli-Toli di provinsi Sulawesi Tengah. Suku ini terkenal karena memiliki benda-benda pusaka sakti dan berkhasiat untuk menghadapi musuh. Menurut suku Dampelas, orang yang memakai benda-benda pusaka itu akan menjadi kebal dan tidak mempan terhadap guna-guna (santet) dan ilmu hitam lainnya.

Sistem kepercayaan

Sebagian besar masyarakat Dampelas memeluk agama Islam namun masih banyak dari mereka yang masih percaya dengan hal-hal yang berbau animisme, seperti mempercayai makhluk gaib dan tempat-tempat keramat yang dianggap bisa mempengaruhi keadaan hidup mereka.

Adat istiadat

Suku Dampelas memiliki beberapa upacara adat, yaitu:

1. Mogupas

Mogupas merupakan tradisi upacara kematian yang merupakan kombinasi antara adat tradisional dengan agama yang mereka anut, yaitu upacara adat sebagai penghormatan terakhir bagi orang yang meninggal.

2. Moguto Bwuiyano dan Mobuso

Upacara adat untuk mengusir wabah dan penyakit kronis.

3. Monilam dan Malead
kedua upacara adat ini digabungkan dan untuk meratakan gigi remaja putri.

4. Moduai dan upacara adat menyambut tamu.

Mata pencaharian

Mata pencaharian suku Dampelas terdapat dalam berbagai bidang kegiatan, seperti bertani. Namun cara bertani masih menggunakan cara-cara lama, yaitu dengan cara berpindah-pindah lahan pertanian. Selain itu mereka memanfaatkan hutan untuk mengumpulkan hasil hutan, seperti mengumpul hasil rotan, damar dan kayu, dan juga melakukan perburuan terhadap binatang-binatang liar yang mereka temui di dalam hutan. Di sekitar perkampungan, mereka memiliki kebun yang ditanami kopra dan cengkeh. Selain itu mereka ahli meramu berbagai jenis obat-obatan tradisional.

Kerajinan

Suku Dampelas sangat trampil dalam membuat beberapa jenis kerajinan, seperti kain tenun sutra dan bonja lipuku dan kerajinan cengkeh khas Toli-Toli.


Saturday, March 28, 2015

Koteka Pakaian Adat Asal Papua

Mengenal Pembuatan Koteka Pakaian Adat Asal Papua
Koteka (photo:indonesiaindonesia.com)
Setiap suku mempunyai baju adat tersendiri, dan beberapa diantaranya sangat unik. Salah satu pakaian adat yang unik adalah Koteka yang berasal dari masyarakat papua. Masyarakat pedalaman papua masih banyak yang menggunakan koteka, namun sudah ada beberapa dari mereka yang telah menggunakan celana sebagai pengganti koteka.

Karena merupakan pakaian tradisional yang unik, baiknya kita mengetahui asal pembuatan koteka tersebut. Maximus Tipigau selaku pengelola wisata Carstensz menjelaskan bahwa proses pembuatan koteka bisa satu sampai dua minggu. Berikut prosesnya seperti yang dilansir Okezone.com:
Bahan baku koteka adalah Labu air, sehingga untuk membuatnya perlu ditanam bibit labu air tesebut. Setelah buah labu matang, kita bisa memetiknya ditanam kembali di digundukan pasir dan dibakar beberapa menit.

“Jadi, biasanya mereka (masyarakat Papua) tanam itu buah labu di dalam gundukan pasir dan dibakar, sehingga kulitnya cepat kering dan bijinya mudah dikeluarkan,” ujarnya Maximus Tipigau seperti dilansir Okezone.com.

Selanjutnya, ruas kulit labu dibersihkan dan dikeringkan di atas perapian. Setelah itu, kita bisa menambahkannya anyaman-anyaman sesuai dengan kreatifitas sampai menjadi satu buah koteka.

Ada beberapa jenis koteka tergantung dari fungsinya. Koteka yang berukuran pendek biasanya digunakan untuk melakukan aktifitas hari-hari. Sedangkan koteka yang berukuran panjang biasa digunakan saat menghadiri upacara adat.

Nah itulah penjelasan singkat cara pembuatan koteka yang merupakan pakaian adat tradisional masyarakat papua.

Wednesday, February 11, 2015

4 Tradisi Pemakaman Unik Suku di Indonesia

4 Tradisi Pemakaman Unik Suku di Indonesia. Indonesia terdiri dari beribu-ribu pulau dan bermacam-macam suku bangsa. Dari beberapa suku bangsa tersebut, masing-masing memiliki tradisi yang unik. Salah satunya adalah tradisi dalam pemakaman manusia.

Tradisi pemakaman merupakan salah satu ritual yang begitu sacral, sehingga ada beberapa suku bangsa di Indonesia yang melakukan ritual dengan cara yang unik.

1. Suku Bali, Membiarkan Jenazah di Atas Tanah

Suku Bali, Membiarkan Jenazah di Atas Tanah
Kuburan Trunyan (wikimedia)
Bali merupakan salah satu pulau yang terkenal dengan wisata dan kebudayaannya. Di Bali ritual pemakamannya prosesi upacara kremasi saat kematian disebut dengan Ngaben. Tetapi bagi penduduk di Kabupaten Bangli, masyarakat tidak melakukan kremasi saat kematian, namun mereka membiarkan jenazah diatas tanah di Kuburan Trunyan yang lokasinya berada di dekat Danau Batur. Sehingga akan dijumpai tulang-tulang yang berserakan di banyak tempat.

2. Suku Toraja Sulawesi Selatan dengan ritual Rambu Solo

Suku Toraja Sulawesi Selatan dengan ritual Rambu Solo
Tradisi Rambu Solo Toraja (tempo.co)
Suku Toraja memiliki tradisi pemakaman kematian yang cukup khas, yang disebut dengan Rambu Solo. Dalam ritual tradisi ini cukup banyak mengeluarkan biaya. Ritual ini digelar sebagai tanda penghormatan terakhir kepada warga yang telah meninggal.

Setelah melakukan prosesi acara, jenazah diusung menggunakan tongkonan yang merupakan rumah adat khas Toraja dan dibawa menuju makam-makam di tebing dan gua. Kemudian juga dibuatkan boneka kayu yang dibuat semirip sosok yang meninggal dunia dan diletakkan di dekat makam jenazah.

3. Jawa Timur, Ritual Brobosan

Jawa Timur, Ritual Brobosan
Tradisi Brobosan (news.detik.com)
Untuk daerah jawa timur, upacara kematian disebut dengan Brobosan. Dalam tradisi ini seluruh anggota keluarga mendiang, berjalan mengelilingi bawah keranda jenazah yang diangkat sebanyak tiga kali. Hal ini dimaksudkan sebagai penghormatan pada mendiang dan untuk mengenang masa hidupnya. Setelah semua keluarga mengitari keranda, jenazah langsung dikebumikan.

4. Sumatera Utara, Ritual Saur Matua

Sumatera Utara, Ritual Saur Matua
Saur Matua, Adat Batak (herlina.org)
Di Sumatera Utara, ritual kematian disebut juga dengan Saur Matua yang merupakan ritual upacara penghormatan terakhir yang dilakukan suku Batak pada mendiang. Upacara adat ini dilakukan jika semua anak dari mendiang telah menikah.

Uniknya tangan dari jenazah tidak diletakkan di depan dada, tetapi tangan dari mendiang diletakkan di samping badan. Prosesi Saur Matua ini dilakukan sebagai penghormatan bagi mendiang, karena telah mendidik anak-anaknya dengan baik, hingga menikah.

Itulah tradisi unik mengenai pemakaman yang dilakukan beberapa suku yang ada di Indonesia. Semoga bermanfaat.

Tuesday, January 27, 2015

12 Suku Di Provinsi Aceh

12 Suku bangsa yang terdapat di provinsi Aceh
peta aceh (foto:wikipedia)
Provinsi Aceh terletak di ujung utara pulau Sumatera dan lokasinya paling barat di Indonesia. Ibu kotanya adalah Banda Aceh. Dahulu kesultanan Aceh adalah negara terkaya, terkuat, dan termakmur di kawasan Selat Malaka. Di provinsi Aceh juga terdapat 12 jenis suku yang menempatinya. Ke 12 suku tersebut adalah;


1. Suku Aceh

Suku ini mendiami ujung utara Sumatra dan menganut agama Islam. Mereka menggunakan bahasa Aceh yang masih berkerabat dengan bahasa Mon Khmer (wilayah Champa). Bahasa Aceh merupakan bagian dari bahasa Melayu-Polynesia barat, cabang dari keluarga bahasa Austronesia. Suku Aceh merupakan suku di Indonesia yang pertama memeluk Islam dan mendirikan kerajaan Islam. Masyarakat Aceh mayoritas bekerja sebagai petani, pekerja tambang, dan nelayan.

2. Suku Aneuk Jamee

Secara harfiah, istilah Aneuk Jamee berasal dari Bahasa Aceh yang berarti “anak tamu”. Suku ini tersebar di sepanjang pesisir barat dan selatan Aceh. Bahasa yang digunakan bahasa Aneuk Jamee, masih merupakan dialek dari bahasa Minangkabau. Namun, Bahasa Aneuk Jamee hanya dituturkan di kalangan orang-orang tua saja dan saat ini umumnya mereka lebih menggunakan Bahasa Aceh sebagai bahasa pergaulan sehari-hari.

3. Suku Alas

Suku ini bermukim di Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh yang biasa juga disebut Tanah Alas. Agama yang dianut adalah agama islam. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Alas. Asal kata “alas” dalam bahasa Alas berarti “tikar”. Hal ini ada kaitannya dengan keadaan daerah itu yang membentang datar seperti tikar di sela-sela Bukit Barisan. Daerah Tanah Alas dilalui banyak sungai, salah satu di antaranya adalah Lawe Alas (Sungai Alas).

4. Suku Batak Pakpak

Suku Pakpak tersebar di beberapa kabupaten/kota di Sumatera Utara dan Aceh, yakni di Kabupaten Dairi, Kabupaten Pakpak Bharat, Kabupaten Humbang Hasundutan( Sumatera Utara), Kabupaten Aceh Singkil dan Kota Sabulusalam. Suku bangsa Pakpak kemungkinan besar berasal dari keturunan tentara kerajaan Chola di India yang menyerang kerajaan Sriwijaya pada abad 11 Masehi
Suku ini terdiri atas 5 subsuku, yang dalam istilah setempat disebut dengan istilah Pakpak Silima suak yang terdiri dari :

Pakpak Klasen (Kab. Humbang Hasundutan Sumut)
Pakpak Simsim (Kab. Pakpak Bharat-sumut)
Pakpak Boang (Kab. Singkil dan kota Sabulusalam-Aceh)
Pakpak Pegagan (Kab. Dairi-sumut)
Pakpak Keppas (Kab. Dairi sumut)

Suku bangsa Pakpak mendiami bagian Utara, Barat Laut Danau Toba hingga perbatasan Sumatra Utara dengan provinsi Aceh (selatan).

5. Suku Devayan
Suku Devayan mendiami Pulau Simeulue, juga di kecamatan Teupah Barat, Simeulue Timur, Simeulue Tengah, Teupah Selatan dan Teluk Dalam.

6. Suku Gayo

Suku Gayo mendiami dataran tinggi Gayo di Aceh. Mayoritas suku ini terdapat di kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues dan 3 kecamatan di Aceh Timur, yaitu kecamatan Serbe Jadi, Peunaron dan Simpang Jernih. Selain itu suku Gayo juga mendiami beberapa desa di kabupaten Aceh Tamiang dan Aceh Tenggara.

Agama yang dianut Suku Gayo adalah agama Islam dan mereka dikenal taat dalam agamanya. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Gayo.

7. Suku Haloban

Suku Haloban terdapat di kabupaten Aceh Singkil, tepatnya di kecamatan Pulau Banyak. Di kecamatan Pulau Banyak terdapat 7 desa dengan ibukota kecamatan terletak di desa Pulau Balai.

8. Suku Kluet

Suku Kluet mendiami beberapa kecamatan di kabupaten Aceh Selatan, yaitu kecamatan Kluet Utara, Kluet Selatan, Kluet Tengah, dan Kluet Timur.

9. Suku Lekon

Suku Lekon terdapat di kecamatan Alafan, Simeulue di provinsi Aceh dan terdapat di desa Lafakha dan dan Langi.

10. Suku Singkil

Suku Singkil terdapat di kabupaten Aceh Singkil daratan dan kota Subulussalam di propinsi Aceh. Namun, kedudukan suku Singkil sampai saat ini masih diperdebatkan, apakah suku ini termasuk dalam suku Pakpak suak Boang atau berdiri sebagai satu suku yang tersendiri terpisah dari suku Pakpak.

11. Suku Sigulai

Suku Sigulai mendiami Pulau Simeulue bagian utara dan terdapat di kecamatan Simeulue Barat, Alafan dan Salang.

12. Suku Tamiang

Suku Tamiang mendiami kabupaten Aceh Tamiang, termaksud suku melayu dan lebih sering disebut Melayu Tamiang. Suku ini mempunyai kesamaan dialek dan bahasa dengan masyarakat Melayu yang tinggal di kabupaten Langkat, Sumatera Utara serta berbeda dengan masyarakat Aceh. Meski demikian suku ini telah sekian abad menjadi bagian dari Aceh. Kebudayaan suku ini juga sama dengan masyarakat Melayu pesisir timur Sumatera lainnya.

Tuesday, February 26, 2013

Ragam Seni dan Budaya Indonesia

Sejarah Keaneka ragaman seni dan budaya Indonesia
Indonesia kaya akan ragam seni budaya sudah semestinya Indonesia berbangga, maka sudah selayaknya bagi bangsa dan masyarakat negeri ini untuk melestarikan dan menjaga ragam seni budaya yang ada di Indonesia ini. Jadi tidak mustahil jika banyak hasil cipta rasa dan karya dalam berbagai adat dan ragam seni budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia ini selalu dilirik oleh bangsa lain. Kebudayaan nasional adalah kebudayaan yang diakui sebagai identitas nasional.
Dalam pembahasan ragam seni budaya mempunyai pengertian  untuk Seni budaya berasal dari dua suku kata Seni - Budaya. Untuk kata Budaya berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal yang diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Tapi semua terangkum menjadi satu yaitu sebuah ragam seni budaya yang ber- BINEKA TUNGGAL IKA dengan menunjukkan adat ketimuran dan berasaskan Pancasila. Secara devinisi budaya dapat di artikan sebegai tata cara hidup manusia yang dilakukan secara kelompok atau masyarakat, dan di wariskan turun-temurun dari generasi ke generasi.
Sedangkan Seni adalah ide atau gagasan proses dari sebuah pemikiran manusia, dan oleh karena itu merupakan sinonim dari ilmu. Dewasa ini, seni bisa dilihat dalam intisari ekspresi dan sebuah cipta rasa manusia dalam kreatifitas. Seni sangat sulit untuk dijelaskan dan juga sulit dinilai, disebab masing-masing individu manusia mempunyai cita rasa yang berbeda antara satu dengan yang lainnya.
Beberapa para ahli devinisi mengartikan bahwa seni merupakan sebuah aktifitas dalam perbuatan yang timbul dan bersifat indah, menyenangkan dan dapat memberi kepuasan tersendiri dalam jiwa suatu manusia. Sebuah seni juga bisa kita gambarkan dari sebuah penjiwaan yang dalam, dan berbeda antara orang satu dengan yang lainnya.
Kebudayaan di Indonesia
Keanekaragaman budaya Indonesia dariSabang sampai Merauke merupakan aset yang tidak ternilai harganya, sehingga harus tetap dipertahankan dan terus dilestarikan. Tetapi, sayangnya, sebagai anak bangsa masih banyak yang tidak mengetahui ragam budaya daerah lain di Indonesia, salah satunya budaya tato di Mentawai, Sumatra Barat, tindik sebagai tanda kedewasaan dan masih banyak kebudayaan lain yang belum ter ekdplorasi.
Bagi penyuka traveling ke berbagai daerah di Indonesia, khususnya yang rasa ingintahunya cukup tinggi terhadap beragam budaya, tidak ada salahnya mampir ke Mentawai untuk melihat dari dekat budaya tato yang sudah menjadi kebudayaan masyarakat setempat, selain menikmati sajian pesona alam dan lautnya.
Tato kebudayaan indonesia
Dalam konteks pemahaman masyarakat majemuk, selain kebudayaan kelompok suku bangsa, masyarakat Indonesia juga terdiri dari berbagai kebudayaan daerah bersifat kewilayahan yang merupakan pertemuan dari berbagai kebudayaan kelompok sukubangsa yang ada didaerah tersebut. Dengan jumlah penduduk 200 juta orang dimana mereka tinggal tersebar dipulau- pulau di Indonesia. Mereka juga mendiami dalam wilayah dengan kondisi geografis yang bervariasi. Mulai dari pegunungan, tepian hutan, pesisir, dataran rendah, pedesaan, hingga perkotaan. Hal ini juga berkaitan dengan tingkat peradaban kelompok-kelompok sukubangsa dan masyarakat di Indonesia yang berbeda.
Contoh dari kebudayaan rakyat pesisir adalah pesta laut yang dipersembahkan untuk para leluhur
Pesta laut
Masyarakat pesisir indonesia
Dari berbagai kebudayaan yang ada sebagai generasi muda Indonesia patutnya kita bangga dan berusaha menghalau budaya-budaya luar yang mampu menggerus kearifan budaya lokal Indonesia dengan semangat juang dan nilai dasar Pancasila.

Ragam Seni dan Budaya Indonesia 


 » Rumah Adat
Nuwo Sesat, Rumah Adat Lampung

Nama-nama rumah adat dan Provinsinya:
  • Nanggro Aceh Darussalam (NAD)
                  Rumah Adat : Rumah Krong Bade
  • Sumatera Utara (SUMUT) 
                  Rumah Adat : Rumah Bolon
  •  Sumatera Barat  
                  Rumah Adat : Rumah Gadang
  • Riau       
                   Rumah Adat : Rumah Melayu Selaso Jatuh Kembar
  • Jambi
                   Rumah Adat : Rumah Panjang
  • Sumatera Selatan (SUMSEL)
                     Rumah Adat : Rumah Limas
  • Bangka Belitung
                      Rumah Adat : Rumah Rakit
  • Bengkulu
                      Rumah Adat : Rumah Rakyat
  • Lampung
                    Rumah Adat : Rumah Sesat
  • DKI Jakarta
                 Rumah Adat : Rumah Kebaya
  • Jawa Barat (JABAR)
                 Rumah Adat : Rumah Kasepuhan Cirebon
  • Banten     Rumah Adat : Rumah Badui
  • Jawa Tengah (JATENG)
             Rumah Adat : Padepokan Jawa Tengah.
  • Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta
            Rumah Adat : Bangsal Kencono Dan Rumah Joglo.
  • Jawa Timur (JATIM)
           Rumah Adat : Rumah Situbondo.

  • Bali
        Rumah Adat : Rumah Gapura Candi Bentar.
  • Nusa Tenggara Barat (NTB)
        Rumah Adat : Rumah Istana Sultan Sumbawa
  • Nusa Tenggara Timur (NTT)
         Rumah Adat : Rumah Musalaki
  • Kalimantan Utara (KALTARA)
        Rumah Adat : Rumah Baloy.
  •  Kalimantan Barat (KALBAR)
           Rumah Adat : Rumah Istana Kesultanan Pontianak.
  • Kalimantan Tengah (KALTENG)
            Rumah Adat : Rumah Betang
  • Kalimantan Selatan (KALSEL)
            Rumah Adat : Rumah Banjar Bubungan Tinggi.
  • Kalimantan Timur (KALTIM)
             Rumah Adat : Rumah Lamin.
  • Sulawesi Utara (SULUT)
             Rumah Adat : Rumah Pewaris
  • Sulawesi Barat (SULBAR)
            Rumah Adat : Rumah Tongkonan
  • Sulawesi Tengah (SULTENG)
            Rumah Adat : Rumah Tambi
  • Sulawesi Tenggara (SULTRA)
            Rumah Adat : Rumah Istana Buton
  • Sulawesi Selatan (SULSEL)
             Rumah Adat : Rumah Tongkonan.
  • Gorontalo
             Rumah Adat : Rumah Dulohupa dan Rumah Pewaris.
  • Maluku
             Rumah Adat : Rumah Baileo
  • Papua Barat
            Rumah Adat : Rumah Honai.
  •  Papua                 Rumah Adat : Rumah Honai

    Sumber :http://organisasi.org/daftar-nama-rumah-adat-daerah-di-indonesia-dan-asal provinsi-ibu-kota

Macam-macam Seni di Indonesia


» Alat Musik
     Alat musik di Indonesia sebenarnya sangat banyak macamnya, contoh saja seperti gendang dari yogyakarta, gamelan dari jawa tengah, Angklung dari jawa barat, bende dari lampung dan masih banyak lagi.
tapi heranya kenapa sekarang orang indonesia sudah jarang ada yang memainkan alat musik tersebut, alat musik tersebut dipakai kalau hanya ada acara besar saja atau di peruntuhkan untuk anak sekolah dasar. harusnya sebagai orang indonesia kita ikut mewarisi budaya-budaya yang telah ada agar budaya tersebut tidak hilang karna adanya budaya asing yang masuk.
          
Gendang, Yogyakarta                                               Angklung, Jawa Barat

>> Tarian 
     Tarian Indonesia mencerminkan kekayaan dan keanekaragaman suku bangsa dan budaya Indonesia.tetapi kebanyakan dari orang indonesia sudah terpengaruh oleh budaya asing atau luar. setiap suku bangsa di Indonesia pasti memmpunyai tarian khas daerahnya sendiri-sendiri. Tradisi kuno tarian dan drama ini biasanya diajarkan seperti di sanggar-sanggar tari dan juga sekolah.
Seni tari di indonesia juga bisa masuk kedalam beberapa golongan, Dalam katagori sejarah, seni tari Indonesia dapat dibagi ke dalam tiga era: era kesukuan prasejarah, era Hindu-Buddha, dan era Islam. Berdasarkan pelindung dan pendukungnya, dapat terbagi dalam dua kelompok, tari keraton (tari istana) yang didukung kaum bangsawan, dan tari rakyat yang tumbuh dari rakyat kebanyakan. Berdasarkan tradisinya, tarian Indonesia dibagi dalam dua kelompok; tari tradisional dan tari kontemporer.
contoh gambar tarian bercorak prasejarah dari suku pedalaman 

Tari keraton

Tari Golek Ayun-ayun, dari KeratonYogyakarta
Tarian di Indonesia mencerminkan sejarah panjang Indonesia. Beberapa keluarga bangsawan; berbagai istana dan keraton yang hingga kini masih bertahan di berbagai bagian Indonesia menjadi benteng pelindung dan pelestari budaya istana. Perbedaan paling jelas antara tarian istana dengan tarian rakyat tampak dalam tradisi tari Jawa. Masyarakat Jawa yang berlapis-lapis dan bertingkat tercermin dalam budayanya. Jika golongan bangsawan kelas atas lebih memperhatikan pada kehalusan, unsur spiritual, keluhuran, dan keadiluhungan; masyarakat kebanyakan lebih memperhatikan unsur hiburan dan sosial dari tarian. Sebagai akibatnya tarian istana lebih ketat dan memiliki seperangkat aturan dan disiplin yang dipertahankan dari generasi ke generasi, sementara tari rakyat lebih bebas, dan terbuka atas berbagai pengaruh.
Perlindungan kerajaan atas seni dan budaya istana umumnya digalakkan oleh pranata kerajaan sebagai penjaga dan pelindung tradisi mereka. Misalnya para Sultan dan Sunan dari Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta terkenal sebagai pencipta berbagai tarian keraton lengkap dengan komposisi gamelan pengiring tarian tersebut.

Tari rakyat


Tari Jaipongan, tari tradisi rakyat Sunda

Tarian Indonesia menunjukkan kompleksitas sosial dan pelapisan tingkatan sosial dari masyarakatnya, yang juga menunjukkan kelas sosial dan derajat kehalusannya. Berdasarkan pelindung dan pendukungya, tari rakyat adalah tari yang dikembangkan dan didukung oleh rakyat kebanyakan, baik di pedesaan maupun di perkotaan. Dibandingkan dengan tari istana (keraton) yang dikembangkan dan dilindungi oleh pihak istana, tari rakyat Indonesia lebih dinamis, enerjik, dan relatif lebih bebas dari aturan yang ketat dan disiplin tertentu, meskipun demikian beberapa langgam gerakan atau sikap tubuh yang khas seringkali tetap dipertahankan. Tari rakyat lebih memperhatikan fungsi hiburan dan sosial pergaulannya daripada fungsi ritual.

Tari tradisional
TARI SIGEH PENGUTEN

Tari tradisional Indonesia mencerminkan kekayaan dan keanekaragaman bangsa Indonesia. Beberapa tradisi seni tari seperti; tarian Bali, tarian Jawa, tarian Sunda, tarian Minangkabau, tarian Palembang, tarian Melayu, tarian Aceh, dan masih banyak lagi adalah seni tari yang berkembang sejak dahulu kala, meskipun demikian tari ini tetap dikembangkan hingga kini. Penciptaan tari dengan koreografi baru, tetapi masih di dalam kerangka disiplin tradisi tari tertentu masih dimungkinkan. Sebagai hasilnya, muncullah beberapa tari kreasi baru. Tari kreasi baru ini dapat merupakan penggalian kembali akar-akar budaya yang telah sirna, penafsiran baru, inspirasi atau eksplorasi seni baru atas seni tari tradisional.
Sekolah seni tertentu di Indonesia seperti Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) di Bandung, Institut Kesenian Jakarta (IKJ) di Jakarta, Institut Seni Indonesia (ISI) yang tersebar di Denpasar,Yogyakarta, dan Surakarta kesemuanya mendukung dan menggalakkan siswanya untuk mengeksplorasi dan mengembangkan seni tari tradisional di Indonesia. Beberapa festival tertentu seperti Festival Kesenian Bali dikenal sebagai ajang ternama bagi seniman tari Bali untuk menampilkan tari kreasi baru karya mereka.