Nusantara Indonesia

Tuesday, May 23, 2017

Sejarah Lengkap Kerajaan Kediri

Kerajaan Kadiri atau Kediri atau Panjalu, adalah sebuah kerajaan yang terdapat di Jawa Timur antara tahun 1042-1222. Kerajaan ini berpusat di kota Daha, yang terletak di sekitar Kota Kediri sekarang.

Sebenarnya kota Daha sudah ada sebelum Kerajaan Kadiri berdiri. Daha merupakan singkatan dari Dahanapura, yang berarti kota api. Nama ini terdapat dalam prasasti Pamwatan yang dikeluarkan Airlangga tahun 1042. Hal ini sesuai dengan berita dalam Serat Calon Arang bahwa, saat akhir pemerintahan Airlangga, pusat kerajaan sudah tidak lagi berada di Kahuripan, melainkan pindah ke Daha.


Awal berdirinya kerajaan kediri

Kerajaan Kediri adalah penerus dari Kerajaan Kahuripan dan pernah mencapai masa kejayaan di saat kerajaan dipimpin oleh Airlangga. Oleh karena itu, para penguasa Kerajaan Kediri selanjutnya adalah penerus dari Dinasti Isyana di Jawa. Pada tahun 1045, Airlangga membagi Kerajaan Kahuripan menjadi dua. Airlangga membagi wilayah kerajaannya dikarenakan oleh perselisihan kedua putranya, Sri Samarawijaya dan Mapanji Garasakan, mereka bersaing memperebutkan takhta kerajaan.

Dibagian barat Kerajaan diserahkan kepada Sri Samarawijaya yang mendapat gelar Sri Samarawijaya Dharmasuparnawahana Teguh Uttunggadewa. Kerajaannya diberi nama Panjalu, dan pusat kerajaan di kota baru yang bernama Daha. Sedangkan Mapanji Garasakan mendapatkan kerajaan disebelah timur. Kemudian kerajaannya bernama Janggala dan mempunyai pusat kerajaan di kota lama, yang bernama Kahuripan. Kemudian, Airlangga mengundurkan diri dari tahta kerajaan dan memilih hidup sebagai pertapa. Empat tahun kemudian, Airlangga meninggal.

Peristiwa pembagian kerajaan oleh Airlangga disebutkan dalam Nagarakretagama dan Serat Calon Arang. Prasasti Turun Hyang II (1044) juga menguatkan informasi tentang pembagian kerajaan tersebut, dalam sejarah Kerajaan Kediri.
Dalam perjalanan sejarah Prasasti Turun Hyang II merupakan piagam pengesahan anugerah dari Mapanji Garasakan kepada penduduk Desa Turun Hyang karena mereka setia membantu Janggala melawan Panjalu. Oleh karena itu, Desa Turun Hyang ditetapkan sebagai sima swatantra atau perdikan (daerah yang dibebaskan dari kewajiban membayar pajak).

Kerajaan Panjalu kemudian lebih dikenal dengan nama Kerajaan Kediri. Pada awal beridirinya, nama Panjalu atau Pangjalu lebih sering digunakan daripada nama Kadiri atau Kediri. Sebutan nama Panjalu dapat kita dijumpai di prasasti-prasasti yang dibuat oleh raja-raja Kerajaan Kediri. Dalam kronik Cina yang berjudul Ling Wai Tai Ta (1178), nama Panjalu bahkan muncul dengan sebutan Pu-chia-lung.

Masa kejayaan kerajaan Kediri

Kerajaan Kediri mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Raja Jayabaya. Daerah kekuasaannya semakin meluas yang berawal dari Jawa Tengah meluas hingga hampir ke seluruh daerah Pulau Jawa. Selain itu, pengaruh Kerajaan Kediri juga sampai masuk ke Pulau Sumatera yang dikuasai Kerajaan Sriwijaya. Kejayaan pd saat itu semakin kuat ketika terdapat catatan dari kronik Cina yang bernama Chou Ku-fei pd tahun 1178 M berisi tentang Negeri paling kaya di masa kerajaan Kediri pimpinan Raja Sri Jayabaya. Bukan hanya daerah kekuasaannya saja yang besar, melainkan seni sastra yang ada di Kediri cukup mendapat perhatian. Dgn demikian, Kerajaan Kediri semakin disegani pd masa itu.

Keruntuhan kerajaan Kediri

Keruntuhan kerajaan Kediri terjadi karena pertentangan antara raja dengan Kaum Brahmana. Raja Kertajaya dianggap melanggar agama dengan memaksakan mereka menyembah kepadanya sebagai dewa. Kaum Brahmana meminta pertolongan kepada Ken Arok, pemimpin daerah Tumapel yang ingin memisahkan diri dari Kediri. Kemudian terjadilah perang antara rakyat Tumapel yang dipimpin Ken Arok dgn Kerajaan Kediri. Akhirnya pada tahun 1222 Masehi, Ken Arok berhasil mengalahkan Kertajaya dan Kerajaan Kediri menjadi wilayah bawahan Tumapel atau Singhasari.

Sebagai pemimpin di Kerajaan Singhasari, Ken Arok mengangkat Jayasabha (putra Kertajaya) sebagai bupati Kediri. Jayasabha digantikan oleh putranya Sastrajaya pada tahun 1258. Kemudian Sastrajaya digantikan putranya Jayakatwang (1271). Jayakatwang berusaha ingin membangun kembali Kerajaan Kediri dengan memberontak Kerajaan Singhasari yang dipimpin Kertanegara. Terbunuhlah Raja Kertanegara dan Kediri berhasil dibangun oleh Jayakatwang.

Namun, kerajaan Kediri tidak berdiri lama, Raden Wijaya (menantu Raja Kertanegara) berhasil meruntuhkan kembali Kerajaan Kediri yang dipimpin oleh Jayakatwang. Setelah itu, tidak ada lagi Kerajaan Kediri.

Raja-raja kerajaan Kediri :

Hasil gambar untuk gambar raja kerajaan kediri
Image: http: ruanasagita.blogspot.com

Sejak pertama didirikan, kerajaan Kediri memiliki banyak raja yang telah memimpinnya. Berikut adalah raja-raja kerajaan Kediri :

1. Sri Jayawarsa
Sejarah tentang raja Sri Jayawarsa ini hanya dapat diketahui dari prasasti Sirah Keting (1104 M). Pada masa pemerintahannya Jayawarsa memberikan hadiah kepada rakyat desa sebagai tanda penghargaan, karena rakyat telah berjasa kepada raja. Dari prasasti itu diketahui bahwa Raja Jayawarsa sangat besar perhatiannya terhadap masyarakat dan berupaya meningkatkan kesejahteraan rakyatnya.
2. Sri Bameswara
Raja Bameswara banyak meninggalkan prasasti seperti yang ditemukan di daerah Tulung Agung dan Kertosono. Prasasti seperti yang ditemukan itu lebih banyak memuat masalah-masalah keagamaan, sehingga sangat baik diketahui keadaan pemerintahannya.
3. Prabu Jayabaya
Kerajaan Kediri mengalami masa keemasan ketika diperintah oleh Prabu Jayabaya. Strategi kepemimpinan Prabu Jayabaya dalam memakmurkan rakyatnya memang sangat mengagumkan. Kerajaan yang beribu kota  di Dahono Puro, bawah kaki Gunung Kelud, ini tanahnya amat subur, sehingga segala macam tanaman tumbuh menghijau.
Hasil pertanian dan perkebunan berlimpah ruah. Di tengah kota membelah aliran sungai Brantas. Airnya bening dan banyak hidup aneka ragam ikan, sehingga makanan berprotein dan bergizi selalu tercukupi.
4. Sri Sarwaswera
Sejarah tentang raja ini didasarkan pada prasasti Padelegan II (1159) dan prasasti Kahyunan (1161). Sebagai raja yang taat beragama dan berbudaya, Sri Sarwaswera memegang teguh prinsip “tat wam asi”, yang berarti “dikaulah itu, dikaulah (semua) itu, semua makhluk adalah engkau”.
Menurut Prabu Sri Sarwaswera, tujuan hidup manusia yang terakhir adalah moksa, yaitu pemanunggalan jiwatma dengan paramatma. Jalan yang benar adalah sesuatu yang menuju arah kesatuan, sehingga segala sesuatu yang menghalangi kesatuan adalah tidak benar.
5. Sri Aryeswara
Berdasarkan prasasti Angin (1171), Sri Aryeswara adalah raja Kediri yang memerintah sekitar tahun 1171. Nama gelar abhisekanya ialah Sri Maharaja Rake Hino Sri Aryeswara Madhusudanawatara Arijamuka.
Tidak diketahui dengan pasti kapan Sri Aryeswara naik tahta. peninggalan sejarahnya berupa prasasti Angin, 23 Maret 1171. Lambang Kerajaan Kediri pada saat itu Ganesha. Tidak diketahui pula kapan pemerintahannya berakhir. Raja Kediri selanjutnya berdasarkan prasasti Jaring adalah Sri Gandra.
6. Sri Gandra
Masa pemerintahan Raja Sri Gandra (1181 M) dapat diketahui dari prasasti Jaring, yaitu tentang penggunaan nama hewan dalam kepangkatan seperti seperti nama gajah, kebo, dan tikus. Nama-nama tersebut menunjukkan tinggi rendahnya pangkat seseorang dalam istana.
7. Sri Kameswara
Masa pemerintahan Raja Sri Gandra dapat diketahui dari Prasasti Ceker (1182) dan Kakawin Smaradhana. Pada masa pemerintahannya dari tahun 1182 sampai 1185 Masehi, seni sastra mengalami perkembangan sangat pesat, diantaranya Empu Dharmaja mengarang kitab Smaradhana. Bahkan pada masa pemerintahannya juga dikeal cerita-cerita panji seperti cerita Panji Semirang.
8. Sri Kertajaya
Berdasarkan prasasti Galunggung (1194), prasasti Kamulan (1194), prasasti Palah (1197), prasasti Wates Kulon (1205), Nagarakretagama, dan Pararaton, pemerintahan Sri Kertajaya berlangsung pada tahun 1190 hingga 1222 Masehi.
Peniggalan kerajaan Kediri :
Hasil gambar untuk candi penataran
Kerajaan kutai memiliki banyak peninggalan sejarah, berikut peninggalan sejarah kerajaan kutai :
  1. Candi Penataran
  2. Candi Tondowongso
  3. Candi Gurah
  4. Candi Mirigambar
  5. Candi Tuban
  6. Prasasti Kamulan
  7. Prasasti Galunggung
  8. Prasasti Jaring
  9. Prasasti Panumbangan
  10. Prasasti Talan
  11. Prasasti Sirah Keting
  12. Prasasti Kertosono
  13. Prasasti Ngantang
  14. Prasasti Padelegan
  15. Prasasti Ceker
  16. Kitab Kakawin Bharatayudha
  17. Kitab Kresnayana
  18. Kitab Sumarasantaka
  19. Kitab Gatotkacasraya
  20. Kitab Smaradhana
Demikian adalah informasi mengenai kerajaan kutai yang dapat saya berikan. Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Terimakasih.









Tags: sejarah kerajaan kediri, kerajaan kediri, makalah kerajaan kediri

Sejarah Lengkap Kerajaan Medang Atau Mataram Kuno

Kerajaan Medang (atau sering juga disebut Kerajaan Mataram Kuno atau Kerajaan Mataram Hindu) adalah nama sebuah kerajaan yang berdiri di Jawa Tengah pada abad ke-8, kemudian berpindah ke Jawa Timur pada abad ke-10. Para raja kerajaan ini banyak meninggalkan bukti sejarah berupa prasasti-prasasti yang tersebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta membangun banyak candi baik yang bercorak Hindu maupun Buddha. Kerajaan Medang akhirnya runtuh pada awal abad ke-11.

Awal berdirinya kerajaan Medang Atau Mataram Kuno

Disebutkan dalam Prasasti Mantyasih tahun 907 atas nama Dyah Balitung bahwa raja pertama Kerajaan Medang (Rahyang ta rumuhun ri Medang ri Poh Pitu) adalah Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya. Pada tahun 732, Sanjaya mengeluarkan prasasti Canggal, namun di dalam prasasti tersebut ia tidak jelas menyebut apa nama kerajaannya. Ia hanya memberitakan adanya raja lain yang memerintah pulau Jawa sebelum dirinya, bernama Sanna. Sepeninggal Sanna, negara menjadi kacau. Sanjaya kemudian tampil menjadi raja, atas dukungan ibunya, yaitu Sannaha, saudara perempuan Sanna.


Sanna, juga dikenal dengan nama "Sena" atau "Bratasenawa", merupakan raja Kerajaan Galuh yang ketiga (709 - 716 M). Bratasenawa alias Sanna atau Sena digulingkan dari tahta Galuh oleh Purbasora (saudara satu ibu Sanna) dalam tahun 716 M. Sena akhirnya melarikan diri ke Pakuan, meminta perlindungan pada Raja Tarusbawa. Tarusbawa yang merupakan raja pertama Kerajaan Sunda (setelah Tarumanegara pecah menjadi Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh) adalah sahabat baik Sanna. Persahabatan ini pula yang mendorong Tarusbawa mengambil Sanjaya menjadi menantunya. Sanjaya, anak Sannaha saudara perempuan Sanna, berniat menuntut balas terhadap keluarga Purbasora. Untuk itu ia meminta bantuan Tarusbawa (mertuanya yangg merupakan sahabat Sanna). Hasratnya dilaksanakan setelah menjadi Raja Sunda yang memerintah atas nama istrinya. Akhirnya Sanjaya menjadi penguasa Kerajaan Sunda, Kerajaan Galuh dan Kerajaan Kalingga (setelah Ratu Shima mangkat). Dalam tahun 732 M Sanjaya mewarisi tahta Kerajaan Mataram dari orangtuanya. Sebelum ia meninggalkan kawasan Jawa Barat, ia mengatur pembagian kekuasaan antara puteranya, Tamperan, dan Resi Guru Demunawan. Sunda dan Galuh menjadi kekuasaan Tamperan, sedangkan Kerajaan Kuningan dan Galunggung diperintah oleh Resi Guru Demunawan, putera bungsu Sempakwaja.

Dari prasasti Canggal, bisa diperoleh informasi jika Kerajaan Mataram Kuno telah berdiri dan berkembang sekitar abad ke-7 M dengan raja yang pertama adalah Sanjaya yang memiliki gelar Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya.

Puncak kejayaan kerajaan Medang Atau Mataram Kuno

Kerajaan Mataram Kuno mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Raja Balitung (898-910 M). Di masa kekuasaannya, daerah-daerah di sebelah timur Mataram berhasil ditaklukkannya. Oleh karena itu, daerah kekuasaan Mataram semakin luas, yang meliputi Bagelen (Jawa Tengah) sampai Malang (Jawa Timur).

Oleh karena itu pada tahun 929 M ibukota Mataram Kuno dipindahkan ke Jawa Timur (di bagian hilir Sungai Brantas) oleh Empu Sindok. Pemindahan ibukota ke Jawa Timur ini dianggap sebagai cara yang paling baik. Selain Jawa Timur masih wilayah kekuasaan Mataram Kuno, wilayah ini dianggap lebih strategis. Hal ini mengacu pada letak sungai Brantas yang terkenal subur dan mempunyai akses pelayaran sungai menuju Laut Jawa. Kerajaan itu kemudian dikenal dengan Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Timur atau Kerajaan Medang Kawulan.


Keruntuhan kerajaan Medang Atau Mataram Kuno

Hancurnya Kerajaan Mataram Kuno dipicu permusuhan antara Jawa dan Sumatra yang dimulai saat pengusiaran Balaputradewa oleh Rakai Pikatan. Balaputradewa yang kemudian menjadi Raka Sriwijaya menyimpan dendam terhadap Rakai Pikatan. Perselisihan antara kedua raja ini berkembang menjadi permusuhan turun-temurun pada generasi selanjutnya. Selain itu, Medang dan Sriwijaya juga bersaing untuk menguasai lalu lintas perdagangan di Asia Tenggara.
Rasa permusuhan Wangsa Sailendra terhadap Jawa terus berlanjut bahkan ketika Wangsa Isana berkuasa. Sewaktu Mpu Sindok memulai periode Jawa Timur, pasukan Sriwijaya datang menyerangnya. Pertempuran terjadi di daerah Anjukladang (sekarang Nganjuk, Jawa Timur) yang dimenangkan oleh pihak Mpu Sindok.

Runtuhnya Kerajaan Mataram ketika Raja Dharmawangsa Teguh yang merupakan cicit Mpu Sindok memimpin. Waktu itu permusuhan antara Mataram Kuno dan Sriwijaya sedang memanas. Tercatat Sriwijaya pernah menggempur Mataram Kuno tetapi pertempuran tersebut dimenangkan oleh Dharmawangsa. Dharmawangsa juga pernah melayangkan serangan ke ibu kota Sriwijaya. Pada tahun 1006 (atau 1016) Dharmawangsa lengah. Ketika ia mengadakan pesta perkawinan putrinya, istana Medang di Wwatan diserbu oleh Aji Wurawari dari Lwaram yang diperkirakan sebagai sekutu Kerajaan Sriwijaya. Dalam peristiwa tersebut, Dharmawangsa tewas.

Kehidupan masyarakat pada masa kerajaan Medang Atau Mataram Kuno

a. Bidang ekonomi
Kehidupan ekonomi masyarakat pada masa kerajaan Medang atau Mataram Kuno bertumpu pada pertanian. Kondisi alam bumi Mataram yang tertutup dari dunia luar sulit untuk mengembangkan aktivitas perekonominan dengan pesat.

b. Bidang sosial
Bumi Mataram diperintah oleh dua dinasti, yakni Dinasti Sanjaya dan Dinasti Syailendra. Dinasti Sanjaya beragama Hindu dengan pusat kekuasaannya di utara dengan hasil budayanya berupa candi-candi seperti Gedong Songo dan Dieng. Dinasti Syailendra beragama Bundha dengan pusat kekuasaannya di daerah selatan, dan hasil budayanya dengan mendirikan candi-candi seperti candi Borobudur, Mendut, dan Pawon.

c. Bidang budaya
Candi-candi Budha dan Hindu merupakan ciri khas kebudayaan masyarakat kerajaan Medang atau Mataram Kuno. 

Raja-raja kerajaan Medang Atau Mataram Kuno:

Hasil gambar untuk raja kerajaan mataram kuno
Image: oediku.wordpress.com

Sejak pertama didirikan, kerajaan Medang atau Mataram kuno memiliki beberapa raja yang berkuasa. Berikut adalah raja-raja kerajaan Medang atau Mataram kuno :
  1. Sanjaya, pendiri Kerajaan Medang
  2. Rakai Panangkaran, awal berkuasanya Wangsa Syailendra
  3. Rakai Panunggalan alias Dharanindra
  4. Rakai Warak alias Samaragrawira
  5. Rakai Garung alias Samaratungga
  6. Rakai Pikatan suami Pramodawardhani, awal kebangkitan Wangsa Sanjaya
  7. Rakai Kayuwangi alias Dyah Lokapala
  8. Rakai Watuhumalang
  9. Rakai Watukura Dyah Balitung
  10. Mpu Daksa
  11. Rakai Layang Dyah Tulodong
  12. Rakai Sumba Dyah Wawa
  13. Mpu Sindok, awal periode Jawa Timur
  14. Sri Lokapala, suami Sri Isanatunggawijaya
  15. Makuthawangsawardhana
  16. Dharmawangsa Teguh, Kerajaan Medang berakhir
    Peninggalan sejarah kerajaan Medang Atau Mataram Kuno:



    Hasil gambar untuk kerajaan mataram kuno

    Image: kisahasalusul.blogspot.com



    Kerajaan kutai memiliki banyak peninggalan sejarah, berikut peninggalan sejarah kerajaan kutai :



    1. Prasasti Tangeran (933 M), isinya Mpu Sindok memerintah bersama permaisurinya Sri Wardhani pu Kbi.
    2. Prasasti Bangil, isinya Mpu Sindok memerintahkan pembangunan candi untuk tempat peristirahatan mertuanya yang bernama Rakyan Bawang.
    3. Prasasti Lor (939 M), isinya Mpu Sindok memerintahkan membangun Candi Jayamrata dan Jayamstambho di Desa Anyok Lodang.
    4. Prasasti Kalkuta, isinya tentang peristiwa hancurnya istana milik Dharmawangsa juga memuat silsilah raja-raja Medang Kamulan.
    5.  Candi Kalasan
    6. Candi Plaosan
    7. Candi Prambanan
    8. Candi Sewu
    9. Candi Mendut
    10. Candi Pawon
    11. Candi Sambisari
    12. Candi Sari
    13. Candi Kedulan
    14. Candi Morangan
    15. Candi Ijo
    16. Candi Barong
    17. Candi Sojiwan,
    18. Candi Borobudur



    Demikian adalah informasi mengenai kerajaan Medang Atau Mataram Kuno yang dapat saya berikan. Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Terimakasih.







    Tags: sejarah lengkap kerajaan mataram kuno, sejarah lengkap kerajaan medang, kerajaan hindu tertua di indonesia, awal berdirinya kerajaan mataram kuno atau medang, masa kejayaan kerajaan mataram kuno atau medang, keruntuhan kerajaan mataram kuno atau medang, raja raja kerajaan mataram kuno atau medang, raja-raja kerajaan mataram kuno atau medang, peninggalan sejarah kerajaan mataram kuno atau medang, sejarah kerajaan kediri, makalah kerajaan medang, makalah kerajaan mataram kuno

    Thursday, April 6, 2017

    Tradisi Unik Pilih dan Coba Pria Untuk Dijadikan Jodoh Suku Kreung

    Mencari pasangan hidup merupakan hal yang susah-susah gampang, kadang kita membutuhkan pendekatan untuk mengetahui karakter pasangan kita. Namun ada yang unik dari cara mencari pasangan dari suku Kreung.

    Tradisi Unik Pilih dan Coba Pria Untuk Dijadikan Jodoh Suku Kreung

    Suku yang berada di Kamboja ini memiliki cara unik sendiri untuk mendapatkan pasangan hidup. Anehnya para wanita disana memiliki tradisi mencoba pria. Maksud mencoba pria disini adalah memilih pria yang akan jadi pasangannya dengan cara tidur dengan laki-laku tersebut. Dan itu bukan hanya dilakukan oleh satu dua pria saja, tetapi lebih dari satu, sampai si gadis menemukan pria pilihannya. Penasaran dengan tradisi tersebut? Dibawah ini adalah ulasannya.

    Gadis 15 Tahun atau yang sudah M

    Tradisi ini dimulai ketika seorang anak gadis berumur 15 tahun, atau yang sudah mengalami menstruasi. Setelah orang tua gadis mengetahui hal tersebut, maka dibangunkanlah sebuah pondok sederhana yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah. Di pondok inilah tempat proses pemilihan jodoh.

    Pondok tersebut terlihat sederhana seperti pondok bamboo yang berada di pematang sawah. Di pondok tersebut si gadis akan memilih pemuda yang datang untuk dijadikan suaminya. Mereka akan menghabiskan malam bersama. Ritual ini merupakan ritual yang sering dilakukan sehingga tidak ada rasa tabu dan semacamnya.

    Para Pemuda Bergantian Mendekati si Gadis

    Pondok yang didirikan tersebut akan menjadi tempat tinggal sementara si gadis sampai ia berhasil menemukan jodohnya. Di dalam pondok ini, para pemuda akan bergantian satu per satu untuk mengenal lebih dalam si gadis dan tentu saja boleh untuk menginap.

    Mekanisme pemilihan tidak begitu jelas, namun dalam pemilihan ini hanya boleh satu orang dalam sehari semalam. Dan biasanya tradisi ini memakan waktu yang cukup lama dan menghabiskan banyak kandidat.

    Tidak Selalu Ada Percintaan

    Dalam ritual ini pasti ada namanya percintaan bahkan bisa berulang kepada pria yang berbeda. Tapi, tidak semua pria yang masuk ke dalam pondok diajak bercinta oleh si gadis. Ini semua dari kemauan si Gadis jika ia bilang tidak mau, maka si pemuda takkan berani menyentuhnya. Dan jika berani nekat maka hukuman adat yang sangat berat akan menantinya. Dalam banyak kasus, biasanya para pemuda hanya akan berbincang-bincang saja dengan si gadis di pondok.

    Prosesi Ritual di Mata Pelaku dan Orangtua

    Di mata masyarakat suku Kreung ini merupakan cara terbaik untuk mencari pasangan. Menurut para orangtua, cara ini sangat adil bagi si gadis karena ia bisa memilih sendiri pria yang disukainya sehingga pernikahan bakal awet. Sedangkan di mata para gadis, tradisi ini juga sangat memuaskan mereka karena mereka diberi keleluasaan untuk mencari pasangan.


    Wednesday, December 7, 2016

    Mata biru suku Lingon,Halmarera

    "Mata biru suku Lingon,Halmarera"         4 November 2018
    @alamraya-street.blogspot.com

     Manusia bermata Biru sering kita lihat di negara-negara Eropa, namun ternyata suku bermata biru juga terdapat di indonesia? Yang tepatnya di suku pedalaman Halmahera. Suku tersebut disebut juga dengan suku Lingon. Dari warna matanya yang biru suku ini berbeda dengan suku suku bangsa yang ada di Indonesia.

    Sejarah dan Asal Usul Suku Lingon Bermata Biru Asal Halmahera

    Lingon adalah sebuah suku pedalaman yang mendiami Halmahera, Provinsi Maluku Utara, Indonesia yang dikenal karena memiliki ciri fisik ras Kaukasoid yakni berkulit putih, berrambut pirang, dan bermata biru, berbeda dengan suku-suku bangsa di Indonesia lainnya yang umumnya memiliki ciri fisik berkulit coklat, bermata coklat kehitaman dan berambut hitam.

    Lantaran memiliki ciri fisik ala orang bule, maka nggak heran juga kalau orang-orang Lingon itu sangat cantik dan ganteng. Menurut cerita masyarakat, orang-orang Lingon memang seperti itu. Sayangnya, masyarakat Lingon sendiri seperti tidak menyadari kelebihannya itu. Menurut cerita lagi, katanya gara-gara kecantikan luar biasa gadis-gadis Lingon, mereka pernah diculik suku lain untuk dijadikan istri. Ada kabar yang mengatakan mereka sudah punah, tapi ada yang bilang juga suku Lingon sengaja menjauh agar tidak diusik.

    Asal muasal

    Tidak ada ceritanya orang ras Mongoloid bisa menghasilkan keturunan Kaukasoid, kecuali ada silang kawin di antara keduanya. Dengan berbekal teori ini maka dapat disimpulkan bahwa suku Lingon bukanlah orang-orang asli sini. Hal ini diperkuat dengan bukti-bukti cerita dari masyarakat sekitar yang secara tersirat seakan membenarkan hal tersebut.

    Cerita muasal Lingon diawali dari karamnya sebuah kapal asal Eropa di sekitar Halmahera. Kemudian karena harus bertahan hidup, orang-orang kapal ini pun akhirnya menepi dan lama-kelamaan memasuki hutan. Lantaran susahnya akses dan lain sebagainya, mereka pun tak punya pilihan selain menetap dan akhirnya membentuk koloni sendiri yang disebut Lingon. Alasan kenapa mereka jadi primitif mungkin karena sudah terlalu lama tinggal di hutan. Pelan-pelan orang Lingon melupakan asal usulnya dan kemudian menyesuaikan diri.

    Ciri Fisik

    Suku Lingon bukanlah suku yang berasal dari ras weddoid, melanesia, polinesia, ataupun mongoloid seperti kebanyakan penduduk di Halmahera. Mereka termasuk dalam ras kaukasoid, sehingga tampilan fisik mereka lebih menyerupai orang Eropa seperti tubuh yang tinggi, kulit putih, rambut pirang, dan warna mata biru atau hijau.

    Sampai saat ini, populasi suku Lingon masih belum diketahui keberadaannya. Dikatakan bahwa dahulu suku ini sering mendapatkan ancaman dari suku yang hidup di pesisir pantai, salah satunya adalah suku Togutil.

    Orang dari suku Togutil kerap berusaha menculik gadis-gadis suku Lingon yang terkenal cantik dengan mata biru mereka. Beberapa suku setempat menganggap Suku Lingon berbahaya, lantaran dikenal memiliki ilmu sihir sehingga mereka juga kadang kala disegani.

    Sumber referensi:
    https://id.wikipedia.org/wiki/Lingon

    Sunday, April 17, 2016

    Sejarah Suku SASAK di Lombok

    Suku di Lombok

    Sejarah dan Kebudayaan Suku Sasak Lombok NTB

       Suku Sasak adalah salah satu suku bangsa di Indonesia yang mendiami pulau Lombok. Mayoritas suku Sasak beragama Islam, namun ada sebagian dari mereka yang berbeda dalam menjalankan ibadahnya, dan mereka disebut sebagai Islam Wetu Telu. Jumlah islam Wetu Telu hanya berjumlah sekitar 1% yang melakukan praktik ibadah seperti itu. Selain itu ada pula sedikit warga suku Sasak yang masih menganut kepercayaan pra-Islam yang disebut dengan nama "Sasak Boda".

    Suku Sasak telah menghuni Pulau Lombok sejak 4.000 Sebelum Masehi. Ada pendapat yang mengatakan bahwa orang Sasak berasal dari percampuran antara penduduk asli Lombok dengan para pendatang dari Jawa. Ada juga yang menyatakan leluhur orang sasak adalah orang Jawa.

    Sejarah

    Asal mula nama Sasak kemungkinan berasal dari kata sak-sak yang artinya sampan. Dalam Kitab Negara Kertagama kata Sasak disebut menjadi satu dengan Pulau Lombok. Yakni Lombok Sasak Mirah Adhi. Dalam tradisi lisan warga setempat kata sasak dipercaya berasal dari kata "sa'-saq" yang artinya yang satu. Kemudian Lombok berasal dari kata Lomboq yang artinya lurus. Maka jika digabung kata Sa' Saq Lomboq artinya sesuatu yang lurus. banyak juga yang menerjemahkannya sebagai jalan yang lurus. Lombo Mirah Sasak Adi adalah salah satu kutipan dari kakawin Nagarakretagama (Desawarnana), sebuah kitab yang memuat tentang kekuasaan dan kepemerintahaan kerajaan Majapahit, gubanan Mpu Prapanca. kata "lombok" dalam bahasa kawi berarti lurus atau jujur, "Mirah" berarti permata, "sasak" berarti kenyataan dan "adi" artinya yang baik atau yang utama. Maka Lombok Mirah Sasak Adi berarti kejujuran adalah permata kenyataan yang baik atau utama.

    Pendapat lain Menurut Goris S., “Sasak” secara etimologi, berasal dari kata “sah” yang berarti “pergi” dan “shaka” yang berarti “leluhur”. Dengan begitu Goris menyimpulkan bahwasasak memiliki arti “pergi ke tanah leluhur”. Dari pengertian inilah diduga bahwa leluhur orang Sasak itu adalah orang Jawa. Bukti lainnya merujuk kepada aksara Sasak yang digunakan oleh orang Sasak disebut sebagai “Jejawan”, merupakan aksara yang berasal dari tanah Jawa, pada perkembangannya, aksara ini diresepsi dengan baik oleh para pujangga yang telah melahirkan tradisi kesusasteraan Sasak.

    Bahasa

    Bahasa yang digunakan suku Sasak memiliki kedekatan dengan sistem aksara Jawa-Bali, sama-sama menggunakan aksara Ha-Na-Ca-Ra-Ka. Kendati demikian, secara pelafalan, bahasa Sasak ternyata lebih memiliki kedekatan dengan bahasa Bali. Menurut penelitian para etnologi yang mengumpulkan hampir semua bahasa di dunia, menggolongkan bahasa Sasak kedalam rumbun bahasa Austronesia Malayu-Polinesian, Juga ada kesamaan ciri dengan rumpun bahasa Sunda-Sulawesi, dan Bali-Sasak.
    Bahasa Sasak yang digunakan di Lombok secara dialek dan lingkup kosakatanya dapat digolongkan kedalam beberapa bahasa sesuai dengan wilayah penuturnya seperti;

    1. Mriak-Mriku (Lombok Selatan)
    2. Meno-Mene dan Ngeno-Ngene (Lombok Tengah)
    3. Ngeto-Ngete (Lombok Tenggara)
    4. Kuto-Kute (Lombok Utara)

    Adat

    Salah satu adat istiadat suku Sasak yang menonjol adalah adat dalam proses perkawinan. Perempuan yang mau dinikahkan oleh seorang lelaki maka yang perempuan harus dilarikan dulu kerumah keluarganya dari pihak laki laki, ini yang dikenal dengan sebutan merarik atau pelarian.
    Dalam proses pelarian gadis tidak perlu memberitahukan kepada orang tuanya. Namun dalam pelarian ini memiliki aturan yang perlu diikuti. Salah satu aturan dalam mencuri gadis biasanya dilakukan dengan membawa beberapa orang kerabat atau teman. Selain sebagai saksi kerabat yang dibawa untuk mencuri gadis itu sekalian sebagai pengiring dalam prosesi itu. Gadis yang dibawa lari juga tidak langsung ke rumah laki-laki tetapi harus dititip di rumah kerabat lelaki tersebut.

    Struktur dan Sistem Masyarakat

    Suku Sasak pada masa lalu secara sosial-politik, digolongkan dalam dua tingkatan sosial utama, yaitu

    1. Golongan bangsawan yang disebut perwangsa
    2. Bangsa Ama atau jajar karang sebagai golongan masyarakat kebanyakan.

    Golongan perwangsa ini terbagi lagi atas dua tingkatan, yaitu:

    1. Perwangsa

    Bangsawan penguasa (perwangsa) umumnya menggunakan gelar datu. Selain itu mereka juga disebut Raden untuk kaum laki-laki dan Denda untuk perempuan. Seorang Raden jika menjadi penguasa maka berhak memakai gelar datu. Perubahan gelar dan pengangkatan seorang bangsawan penguasa itu umumnya dilakukan melalui serangkaian upacara kerajaan.

    2. Triwangsa

    Bangsawan rendahan (triwangsa) biasanya menggunakan gelar lalu untuk para lelakinya dan baiq untuk kaum perempuan. Tingkatan terakhir disebut jajar karang atau masyarakat biasa.Panggilan untuk kaum laki-laki di masyarakat umum ini adalah loq dan untuk perempuan adalah le.
    Golongan bangsawan baik perwangsa dan triwangsa disebut sebagai permenak. Para permenak ini biasanya menguasai sejumlah sumber daya dan juga tanah. Ketika Kerajaan Bali dinasti Karangasem berkuasa di Pulau Lombok, mereka yang disebut permenak kehilangan haknya dan hanya menduduki jabatan pembekel (pejabat pembantu kerajaan).

    Masyarakat Sasak sangat menghormati golongan permenak baik berdasarkan ikatan tradisi dan atau berdasarkan ikatan kerajaan. Di sejumlah desa, seperti wilayah Praya dan Sakra, terdapat hak tanah perdikan (wilayah pemberian kerajaan yang bebas dari kewajiban pajak). Setiap penduduk mempunyai kewajiban apati getih, yaitu kewajiban untuk membela wilayahnya dan ikut serta dalam peperangan. Kepada mereka yang berjasa, Kerajaan akan memberikan beberapa imbalan, salah satunya adalah dijadikan wilayah perdikan.

    Landasan sistem sosial masyarakat dalam kehidupan suku Sasak umumnya mengikuti garis keturunan dari pihak laki-laki (patrilineal). Akan tetapi, dalam beberapa kasus hubungan masyarakatnnya terkesan bilateral atau parental (garis keturunan diperhitungkan dari kedua belah pihak; ayah dan ibu).

    Pola kekerabatan yang dalam tradisi suku sasak disebut Wiring Kadang ini mengatur hak dan kewajiban anggota masyarakatnya. Unsur-unsur kekerabatan ini meliputi Kakek, Ayah, Paman (saudara laki-laki ayah), Sepupu (anak lelaki saudara lelaki ayah), dan anak-anak mereka.
    Wiring Kadang juga mengatur tanggung jawab mereka terhadap masalah-masalah keluarga; pernikahan, masalah warisan dan hak-kewajiban mereka. Harta warisan disebut pustaka dapat berbentuk tanah, rumah, dan juga benda-benda lainnya yang merupakan peninggalan leluhur. Orang-orang Bali memiliki pola kekerabatan yang hampir sama disebut purusa dengan harta waris yang disebut pusaka.

    Sistem Kepercayaan

    Kepercayaan asli suku Sasak adalah Boda, beberapa menyebutnya Sasak Boda. Walapun ada kesamaan pelafalan dengan Buddha, namun sistem kepercayaan Boda tidak memiliki kesamaan dan hubungan dengan Buddhisme. Agama Boda orang Sasak ini justru ditandai dengan penyembahan roh-roh leluhur mereka sendiri.

    Beberapa agama seperti Hindu-Budha masuk kedalam suku ini ketika kerajaan Majapahit masuk. Dan kemudian suku Sasak memeluk agama islam setelah peran Sunan Giri dalam dakwahnya menyebarkan islam. Setelah perkembangan Islam, kepercayaan Suku Sasak sebagian berubah dari Hindu menjadi penganut Islam. Selanjutnya kepercayaan Suku Sasak diklasifikasikan tiga kelompok utama; Boda, Wetu Telu, dan Islam (Wetu Lima).

    Penganut Boda sebagai komunitas kecil yang berdiam di wilayah pegunungan utara dan di lembah-lembah pegunungan Lombok bagian selatan. Kelompok Boda ini konon adalah orang-orang Sasak yang dari segi kesukuan, budaya, dan bahasa menganut kepercayaan asli. Mereka menyingkir ke daerah pegunungan melepaskan diri dari islamisasi di Lombok.

    Sedangkan Agama Wetu telu awalnya memiliki ciri sama dengan Hindu-Bali dan Kejawen. Di antara unsur-unsur umum, peran leluhur begitu menonjol. Hal itu didasarkan pada pandangan yang berakar pada kepercayaan tentang kehidupan senantiasa mengalir.

    Pada perkembangannya Wetu telu justru lebih dekat dengan Islam. Konon, sekarang hampir semua desa suku Sasak sudah menganut Agama Islam lima waktu dan meninggalkan Wetu telu sepenuhnya. Sementara sinkretisme Islam-Wetu telu kini berkembang terbatas di beberapa bagian utara dan selatan Pulau Lombok. Meliputi Bayan, dataran tinggi Sembalun, Suranadi di Lombok Timur, Pujut di Lombok Tengah, dan Tanjung di Lombok Barat.

    Istilah Islam-Wetu Telu diberikan karena penganut kepercayaan ini beribadah tiga kali di bulan puasa, yaitu waktu Magrib, Isya, dan waktu Subuh. Di luar bulan puasa, mereka hanya satu hari dalam seminggu melakukan ibadah, yaitu pada hari Kamis dan atau Jumat, meliputi waktu Asar. Untuk urusan ibadah lainnya biasanya dilakukan oleh pemimpin agama mereka; para kiai dan penghulu.

    Arsitektur Suku Sasak

    Rumah-rumah suku Sasak berbeda dengan arsitektur Bali pada umumnya. Di dataran, perkampungan suku Sasak cenderung luas dan melintang. Desa-desa Suku Sasak di wilayah pegunungan tertata rapi mengikuti perencanaan yang pasti. Di Lombok bagian utara, biasanya perkampungan Suku Sasak terdapat dua baris rumah tipe bale, dengan sederet lumbung padinya di satu sisi yang lain. Bangunan lain yang menjadi ciri khas perkampungan orang Sasak adalah rumah besar (bale bele).
    Di antara deretan rumah-rumah itu dibangun balai yang bersisi terbuka (beruga) sebagai tempat pertemuan. Balai terbuka menyediakan panggung untuk kegiatan sehari-hari dalam fungsi hubungan sosial masyarakat. Balai ini juga digunakan untuk urusan keagamaan misalnya upacara penghormatan jenazah sebelum dikuburkan. Sementara makam leluhur yang terdiri dari rumah-rumah kayu dan bambu kecil dibangun di wilayah bagian atas dari perkampungan.
    Sedikitnya ada empat jenis dasar lumbung dengan ukuran yang berbeda-beda. Semua lumbung, kecuali jenis lumbung padi yang berukuran kecil, memiliki panggung di bawah.
    Di desa-desa Lombok bagian selatan, panggung yang berada di bagian bawah lumbung padi berperan sebagai balai. Di Lombok bagian utara, tidak semua desa memiliki lumbung padi.
    Lumbung padi menjadi ciri khas yang sangat menarik dalam arsitektur suku Sasak. Bangunan Lumbung itu didirikan pada tiang-tiang dengan cara dan ciri khas yang mirip bangunan-bangunan Austronesia.

    Bangunan ini memiliki atap berbentuk “topi” yang ditutup ilalang. Empat tiang besar menyangga tiang-tiang melintang di bagian atas tempat kerangka utama dibangun. Bagian atas  penopang kayu kemudian menguatkan rangka-rangka bambunya yang semua bagiannya ditutupi ilalang. Satu-satunya yang dibiarkan terbuka adalah sebuah lubang persegi kecil yang terletak tinggi di bagian ujung berfungsi untuk menaruh padi hasil panen. Untuk mencegah hewan pengerat masuk. Piringan kayu besar yang mereka sebut jelepreng, disusun di bagian atas puncak tiang dasarnya.
    Rumah tradisional Suku Sasak berdenah persegi, tidak berjendela dan hanya memiliki satu pintu dengan pintu ganda yang telah diukir halus. Di bagian dalam, tidak terdapat tiang-tiang penyangga atap. Bubungan atapnya curam, terbuat dari jerami yang memiliki ketebalan kurang lebih 15 centimeter. Atap itu sengaja dibiarkan menganjur ke bagian dinding dasar yang hampir menutupi bagian dinding. Dinding terdiri dari dua bagian, bagian tengah yang menyatu dengan atap dibuat dari bambu, bagian bawah dibuat dari campuran lumpur, dan jerami yang permukaannya telah dipelitur halus.

    Rumah digunakan terutama untuk tempat tidur dan memasak. Masyarakat Sasak jarang menghabiskan waktu di dalam rumah sepanjang hari. Di sisi sebelah kiri dibagi untuk tempat tidur anggota keluarga, juga terdapat rak di langit-langitnya untuk menyimpan pusaka dan benda berharga. Anak laki-laki tidur di panggung bawah bagian luar; anak perempuan tidur di atas bagian dalam panggung.

    Untuk kegiatan memasak, bagian dalam rumah berisi tungku yang berada di sisi sebelah kanan yang dilengkapi rak-rak untuk menyimpan dan mengeringkan jagung. Kayu bakar disimpan di belakang rumah, kadang juga disimpan di bawah panggung.

    Tradisi dan Seni

    Dari sejarahnya yang panjang, Suku Sasak bisa saja diidentifikasikan sebagai budaya yang banyak mendapat pengaruh dari Jawa dan Bali. Namun, kenyataannya kebudayaan Suku Sasak memiliki corak dan ciri budaya yang khas, asli dan sangat mapan hingga berbeda dengan budaya suku-suku lainnya di Nusantara.

    Berikut beberapa jenis seni dan tradisi yang cukup terkenal dari suku Sasak:

    Bau Nyale

    Nyale adalah sejenis binatang laut, termasuk jenis cacing (anelida) yang berkembang biak dengan bertelur. Dalam alam kepercaan Suku Sasak, Nyale bukan sekedar binatang, beberapa legenda dari Suku ini yang menceritakan tentang putri yang menjelma menjadi Nyale. Lainnya menyatakan bahwa Nyale adalah binatang anugerah, bahkan keberadaannya dihubungkan dengan kesuburan dan keselamatan.

    Ritual Bau Nyale atau menangkap nyale digelar setahun sekali. Biasanya pada tanggal 19 atau 20 pada bulan ke-10 atau ke-11 menurut perhitungan tahun suku Sasak, kurang lebih berkisar antara bulan Februari atau Maret.

    Rebo Bontong

    Suku Sasak percaya bahwa hari Rebo Bontong merupakan hari puncak terjadi bencana dan atau penyakit (Bala) sehingga bagi mereka sesuatu yang tabu jika memulai pekerjaan tepat pada hari Rebo Bontong. Kata Rebo dan juga Bontong kurang lebih artinya “putus” atau “pemutus”.
    Upacara Rebo Bontong dimaksudkan untuk dapat menghindari bencana atau penyakit. Upacara ini digelar setahun sekali yaitu pada hari Rabu di minggu terakhir bulan Safar dalam kalender Hijriah.

    Bebubus Batu

    Dari kata “bubus”, yaitu sejenis ramuan obat berbahan dasar beras yang dicampur berbagai jenis tanaman, dan dari kata batu yang merujuk kepada batu tempat melaksanakan upacara.Bebubus Batu adalah upacara yang digelar untuk meminta berkah kepada sang Kuasa. Upacara ini dilaksanakan tiap tahun, dipimpin oleh Penghulu (pemangku adat) dan Kiai (ahli agama). Masyarakat ramai-ramai mengenakan pakaian adat serta membawa dulang, sesajen dari hasil bumi.

    Sabuk Beleq Merujuk kepada sebuah pustaka sabuk yang besar (Beleq) bahkan panjangnya mencapai 25 meter, masyarakat Lombok khususnya mereka yang berada di wilayah Lenek Daya akan menggelar upacara pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun Hijriah. Tradisi pengeluaran Sabuk Bleeq ini mereka awali dengan mengusung Sabuk Beleq mengelilingi kampung diiringi dengan tetabuhan gendang beleq. Ritual upacara kemudian dilanjutkan dengan menggelar praja mulud hingga diakhiri dengan memberi makan berbagai jenis makhluk. Upacara ini dilakukan untuk mempererat ikatan persaudaraan, persatuan dan gotong royong antar masyarakat, serta cinta kasih di antara makhluk Tuhan.

    Lomba Memaos

    Memaos kurang lebih artinya membaca dan orang yang membaca di sebut pepaos. Lomba memaos adalah lomba untuk membaca lontar yang menceritakan hikayat dari leluhur mereka. Tujuan lomba pembacaan cerita ini adalah agar generasi selanjutnya dapat mengetahui kebudayaan dan sejarah masa lalu. Selain itu, Lomba ini juga dapat berfungsi sebagai regenerasi nilai-nilai sosia, budaya, dan tradisi pada generasi penerus. Satu kelompok pepaos biasanya terdiri dari 3-4 orang; pembaca, pejangga, dan pendukung vokal.

    Tandang Mendet

    Tandang Mendet adalah tarian perang Suku Sasak. Konon Tarian ini telah ada sejak zaman Kerajaan Selaparang. Tarian yang menggambarkan keperkasaan dan perjuangan ini dimainkan oleh belasan orang dengan berpakaian dan membawa alat-alat keprajuritan lenggap; kelewang (pedang), tameng, tombak. Tarian diiringi dengan hentakan gendang beleq serta pembacaan syair-syair perjuangan.

    Peresean

    Peresean suku sasak lombok

    Kadang ada yang menulisnya Periseian dan atau Presean adalah seni bela diri yang dulu digunakan oleh lingkungan kerajaan. Peresean awalnya adalah latihan pedang dan perisai bagi seorang prajurit. Pada perkembangannya, latihan ini menjadi pertunjukan rakyat untuk menguji ketangkasan dan “keberanian”.

    Senjata yang digunakan adalah sebilah rotan yang dilapisi pecahan kaca. Dan untuk menangkis serangan, pepadu (pemain) biasanya membawa sebuah perisai (ende) yan terbuat dari kayu berlapis kulit lembu atau kerbau. Setiap pepadu memakai ikat kepala dan mengenakan kain panjang.
    Festival peresean diadakan setiap tahun terutama di Kabupaten Lombok Timur yang akan diikuti oleh pepadu dari seluruh Pulau Lombok.

    Begasingan

    Permainan rakyat yang mempunyai unsur seni dan olahraga, bahkan termasuk permainan tradisional yang tergolong tua di masyarakat Sasak. Permainan tradisional ini juga dikenal di beberapa wilayah lain di Indonesia. Hanya saja, Gasing orang sasak ini berbeda baik bentuk maupun aturan permainannya. Gasing besar, mereka namai pemantok, digunakan untuk menghantam gasingpengorong atau pelepas yang ukurannya lebih kecil.

    Begasingan berasal dari kata gang yang artinya “lokasi”, dan dari kata sing artinya “suara”. Permainan tradisional ini tak mengenal umur dan tempat, bisa siapa saja, bisa di mana saja.

    Alat Musik

    Slober

    Alat musik tradisional Lombok yang cukup tua, unik, dan bersahaja. Slober dibuat dari pelepah enau dan ketika dimainkan alat musik ini biasanya didukung dengan alat musik lainnya seperti gendang, gambus, seruling, dll. Kesenian yang masih dapat anda saksikan hingga saat ini, sangat asyik jika dimainkan ketika malam bulan purnama.

    Gendang Beleq

    Satu dari kesenian Lombok yang mendunia. Gendang Beleq merupakan pertunjukan dengan alat perkusi gendang berukuran besar (Beleq) sebagai ensembel utamanya. Komposisi musiknya dapat dimainkan dengan posisi duduk, berdiri, dan berjalan untuk mengarak iring-iringan.
    Ada dua jenis gendang beleq yang berfungsi sebagai pembawa dinamika yaitu gendang laki-laki atau gendang mama dan gendang nina atau gendang perempuan).

    Sebagai pembawa melodi adalah gendang kodeq atau gendang kecil. Sedangkan sebagai alat ritmis adalah dua buah reog, 6-8 buah perembak kodeq, sebuah petuk, sebuah gong besar, sebuah gong penyentak, sebuah gong oncer, dan dua buah lelontek. Menurut cerita, gendang beleq dahulu dimainkan bila ada pesta-pesta yang diselenggarakan oleh pihak kerajaan. Bila terjadi perang gendang ini berfungsi sebagai penyemangat prajurit yang ikut berperang.

    Sumber referensi:
    https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Sasak
    http://www.wacananusantara.org/sejarah-dan-tradisi-suku-sasak/

    Tuesday, December 8, 2015

    Tarian Bali Jadi Warisan Budaya Dunia

    9 Tarian Bali Jadi Warisan Budaya Dunia UNESCO
    @alamraya-street.blogspot.com
    Bali terkenal dengan kebudayaannya yang masih sangat kental. Mulai dari tari-tarian, tradisi bahkan keseniannya sangat terkenal diseluruh dunia. Sehingga banyak wisatawan yang senang mengunjungi pulau dewata ini. Tidak hanya itu pemandangan alamnya pun menjadi salah satu daya Tarik utama.

    Karena tari-tariannya yang sangat unik, ada beberapa tarian di bali yang dijadikan sebagai warisan budaya Unesco. Badan PBB untuk urusan Budaya (UNESCO) menetapkan sembilan tarian tradisi Bali sebagai Warisan Budaya Dunia Tak Benda (WBD-TB) secara aklamasi. Penetapan warisan budaya ini dilakukan secara resmi dalam sidang UNESCO di Windoek Nambia, Afrika Selatan yang dilaksanakan pada 1-2 Desember 2015.

    Tari yang dipilih berjumlah 9 jenis yang dianggap mewakili seluruh tarian Bali yang dimiliki oleh masyarakat Bali, baik yang tinggal di Pulau Bali maupun yang tinggal di luar Bali. Saat ini banyak masyarakat Bali yang tersebar diberbagai kepulauan Nusantara dan bahkan diluar negeri. Namun mereka yang merantau tidak begitu saja melupakan kebudayaan tradisi mereka. Hal ini terbukti dengan banyaknya orang Bali yang kerap menampilkan tari-tariannya di luar Bali bahkan di luar negeri.

    Berikut adalah 9 tari-tarian dari Bali yang ditetapkan jadi Warisan Budaya Dunia UNESCO:

    1. Tari Rejang dari Kabupaten Klungkung,
    2. Tari Sanghyang Dedari asal Kabupaten Karangasem,
    3. Tari Basis Upacara asal Kabupaten Bangli,
    4. Tari Topeng Sidhakarva atau Topeng Pajegan dari Kabupaten Tabanan,
    5. Tari Gambuh dari Kabupaten Gianyar,
    6. Drama Tari Wayang Wong dari Kabupaten Buleleng,
    7. Tari Bebali, Tari Legong Keraton dari Denpasar,
    8. Tari Joged Bumbung asal Kabupaten Jembrana, dan
    9. Tari Barong Ket Kuntisraya asal Kabupaten Badung.

    Sumber referensi:

    Dream.co.id

    Tuesday, August 18, 2015

    Tradisi Lompat Batu (Fahombo) Suku Nias Sumatera

    Tradisi Lompat Batu Suku Nias Sumatera

    Tradisi Lompat Batu Suku Nias Sumatera. Anda masih mengingat uang kertas Rp. 1000 cetakan tahun 1992 yang bergambar seseorang sedang melompati batu? Ternyata itu merupakan sebuah tradisi suku Nias. Tradisi tersebut disebut dengan Fahombo, Hombo Batu atau dalam bahasa Indonesia "Lompat Batu".

    Maksud dari olah raga tradisi lompat batu tersebut merupakan ritual pendewasaan Suku Nias. Selain sebagai sebuah tradisi, ternyata juga menjadi objek wisata tradisional unik yang teraneh hingga ke seluruh dunia. Batu yang akan dijadikan sebagai tempat untuk dilompati disusun hingga mencapai 2 meter dengan ketebalan 40 cm.

    Sejarah dan Makna Tradisi Lompat Batu

    Dahulu, pemuda suku Nias akan mencoba tradisi fahombo atau melompati batu setinggi lebih dari 2 meter. Jika pemuda tersebut berhasil mereka akan dianggap telah menjadi lelaki dewasa dan dapat bergabung sebagai prajurit untuk berperang dan menikah.

    Mereka mencoba mempersiapkan diri untuk melakukan tradisi fahombo ini sejak usia 10 tahun, anak lelaki akan bersiap untuk melakukan giliran "fahombo". Ritual fahombo ini sangat dianggap serius dalam adat Nias. Dengan menggunakan busana penjuang suku Nias, mereka harus dapat melompati batu tersebut untuk mendapatkan status kedewasaan. Jika berhasil mereka menandakan bahwa mereka telah siap bertempur dan memikul tanggung jawab sebagai laki-laki dewasa.

    Di masa lampau, bagian atas papan batu ditutupi dengan paku dan bambu runcing. Sehingga calon pelompat akan melakukannya dengan serius. Secara taktis dalam peperangan, tradisi fahombo ini juga berarti melatih prajurit muda untuk tangkas dan gesit dalam melompati dinding pertahanan musuh mereka, dengan obor di satu tangan dan pedang di malam hari.

    Bentuk batu Fahombo

    Bentuk batu yang harus dilompati dalam fahombo seperti sebuah monumen piramida dengan permukaan atas datar. Tingginya tidak kurang dari 2 meter, dengan lebar 90 cm, dan panjang 60 cm.
    Mereka yang akan melakukan tradisi lompat batu juga harus mempelajari teknik mendarat. Karena jika mendarat dalam posisi yang salah dapat menyebabkan cedera, baik itu cedera otot ataupun patah tulang.

    Thursday, June 11, 2015

    Sejarah dan Kebudayaan suku Dampelas Asal Sulawesi Tengah

    soso dalam festival danau Dampelas acara adat suku Dampelas

    Sejarah dan Kebudayaan suku Dampelas Asal Sulawesi Tengah. Suku Dampelas atau biasa disebut juga Dampeles adalah etnis suku yang mendiami kecamatan Dampeles Sojo kabupaten Buol dan kabupaten Toli-Toli di provinsi Sulawesi Tengah. Suku ini terkenal karena memiliki benda-benda pusaka sakti dan berkhasiat untuk menghadapi musuh. Menurut suku Dampelas, orang yang memakai benda-benda pusaka itu akan menjadi kebal dan tidak mempan terhadap guna-guna (santet) dan ilmu hitam lainnya.

    Sistem kepercayaan

    Sebagian besar masyarakat Dampelas memeluk agama Islam namun masih banyak dari mereka yang masih percaya dengan hal-hal yang berbau animisme, seperti mempercayai makhluk gaib dan tempat-tempat keramat yang dianggap bisa mempengaruhi keadaan hidup mereka.

    Adat istiadat

    Suku Dampelas memiliki beberapa upacara adat, yaitu:

    1. Mogupas

    Mogupas merupakan tradisi upacara kematian yang merupakan kombinasi antara adat tradisional dengan agama yang mereka anut, yaitu upacara adat sebagai penghormatan terakhir bagi orang yang meninggal.

    2. Moguto Bwuiyano dan Mobuso

    Upacara adat untuk mengusir wabah dan penyakit kronis.

    3. Monilam dan Malead
    kedua upacara adat ini digabungkan dan untuk meratakan gigi remaja putri.

    4. Moduai dan upacara adat menyambut tamu.

    Mata pencaharian

    Mata pencaharian suku Dampelas terdapat dalam berbagai bidang kegiatan, seperti bertani. Namun cara bertani masih menggunakan cara-cara lama, yaitu dengan cara berpindah-pindah lahan pertanian. Selain itu mereka memanfaatkan hutan untuk mengumpulkan hasil hutan, seperti mengumpul hasil rotan, damar dan kayu, dan juga melakukan perburuan terhadap binatang-binatang liar yang mereka temui di dalam hutan. Di sekitar perkampungan, mereka memiliki kebun yang ditanami kopra dan cengkeh. Selain itu mereka ahli meramu berbagai jenis obat-obatan tradisional.

    Kerajinan

    Suku Dampelas sangat trampil dalam membuat beberapa jenis kerajinan, seperti kain tenun sutra dan bonja lipuku dan kerajinan cengkeh khas Toli-Toli.


    Saturday, March 28, 2015

    Koteka Pakaian Adat Asal Papua

    Mengenal Pembuatan Koteka Pakaian Adat Asal Papua
    Koteka (photo:indonesiaindonesia.com)
    Setiap suku mempunyai baju adat tersendiri, dan beberapa diantaranya sangat unik. Salah satu pakaian adat yang unik adalah Koteka yang berasal dari masyarakat papua. Masyarakat pedalaman papua masih banyak yang menggunakan koteka, namun sudah ada beberapa dari mereka yang telah menggunakan celana sebagai pengganti koteka.

    Karena merupakan pakaian tradisional yang unik, baiknya kita mengetahui asal pembuatan koteka tersebut. Maximus Tipigau selaku pengelola wisata Carstensz menjelaskan bahwa proses pembuatan koteka bisa satu sampai dua minggu. Berikut prosesnya seperti yang dilansir Okezone.com:
    Bahan baku koteka adalah Labu air, sehingga untuk membuatnya perlu ditanam bibit labu air tesebut. Setelah buah labu matang, kita bisa memetiknya ditanam kembali di digundukan pasir dan dibakar beberapa menit.

    “Jadi, biasanya mereka (masyarakat Papua) tanam itu buah labu di dalam gundukan pasir dan dibakar, sehingga kulitnya cepat kering dan bijinya mudah dikeluarkan,” ujarnya Maximus Tipigau seperti dilansir Okezone.com.

    Selanjutnya, ruas kulit labu dibersihkan dan dikeringkan di atas perapian. Setelah itu, kita bisa menambahkannya anyaman-anyaman sesuai dengan kreatifitas sampai menjadi satu buah koteka.

    Ada beberapa jenis koteka tergantung dari fungsinya. Koteka yang berukuran pendek biasanya digunakan untuk melakukan aktifitas hari-hari. Sedangkan koteka yang berukuran panjang biasa digunakan saat menghadiri upacara adat.

    Nah itulah penjelasan singkat cara pembuatan koteka yang merupakan pakaian adat tradisional masyarakat papua.

    Wednesday, February 11, 2015

    4 Tradisi Pemakaman Unik Suku di Indonesia

    4 Tradisi Pemakaman Unik Suku di Indonesia. Indonesia terdiri dari beribu-ribu pulau dan bermacam-macam suku bangsa. Dari beberapa suku bangsa tersebut, masing-masing memiliki tradisi yang unik. Salah satunya adalah tradisi dalam pemakaman manusia.

    Tradisi pemakaman merupakan salah satu ritual yang begitu sacral, sehingga ada beberapa suku bangsa di Indonesia yang melakukan ritual dengan cara yang unik.

    1. Suku Bali, Membiarkan Jenazah di Atas Tanah

    Suku Bali, Membiarkan Jenazah di Atas Tanah
    Kuburan Trunyan (wikimedia)
    Bali merupakan salah satu pulau yang terkenal dengan wisata dan kebudayaannya. Di Bali ritual pemakamannya prosesi upacara kremasi saat kematian disebut dengan Ngaben. Tetapi bagi penduduk di Kabupaten Bangli, masyarakat tidak melakukan kremasi saat kematian, namun mereka membiarkan jenazah diatas tanah di Kuburan Trunyan yang lokasinya berada di dekat Danau Batur. Sehingga akan dijumpai tulang-tulang yang berserakan di banyak tempat.

    2. Suku Toraja Sulawesi Selatan dengan ritual Rambu Solo

    Suku Toraja Sulawesi Selatan dengan ritual Rambu Solo
    Tradisi Rambu Solo Toraja (tempo.co)
    Suku Toraja memiliki tradisi pemakaman kematian yang cukup khas, yang disebut dengan Rambu Solo. Dalam ritual tradisi ini cukup banyak mengeluarkan biaya. Ritual ini digelar sebagai tanda penghormatan terakhir kepada warga yang telah meninggal.

    Setelah melakukan prosesi acara, jenazah diusung menggunakan tongkonan yang merupakan rumah adat khas Toraja dan dibawa menuju makam-makam di tebing dan gua. Kemudian juga dibuatkan boneka kayu yang dibuat semirip sosok yang meninggal dunia dan diletakkan di dekat makam jenazah.

    3. Jawa Timur, Ritual Brobosan

    Jawa Timur, Ritual Brobosan
    Tradisi Brobosan (news.detik.com)
    Untuk daerah jawa timur, upacara kematian disebut dengan Brobosan. Dalam tradisi ini seluruh anggota keluarga mendiang, berjalan mengelilingi bawah keranda jenazah yang diangkat sebanyak tiga kali. Hal ini dimaksudkan sebagai penghormatan pada mendiang dan untuk mengenang masa hidupnya. Setelah semua keluarga mengitari keranda, jenazah langsung dikebumikan.

    4. Sumatera Utara, Ritual Saur Matua

    Sumatera Utara, Ritual Saur Matua
    Saur Matua, Adat Batak (herlina.org)
    Di Sumatera Utara, ritual kematian disebut juga dengan Saur Matua yang merupakan ritual upacara penghormatan terakhir yang dilakukan suku Batak pada mendiang. Upacara adat ini dilakukan jika semua anak dari mendiang telah menikah.

    Uniknya tangan dari jenazah tidak diletakkan di depan dada, tetapi tangan dari mendiang diletakkan di samping badan. Prosesi Saur Matua ini dilakukan sebagai penghormatan bagi mendiang, karena telah mendidik anak-anaknya dengan baik, hingga menikah.

    Itulah tradisi unik mengenai pemakaman yang dilakukan beberapa suku yang ada di Indonesia. Semoga bermanfaat.