Nusantara Indonesia: Tradisi
Showing posts with label Tradisi. Show all posts
Showing posts with label Tradisi. Show all posts

Friday, November 2, 2018

Tato Mentawai, Tato tertua berasal dari indonesia

Tattoo Mentawai,
Borneo,
Indonesia





 Istilah “Tattoo” diambil dari kata “Tatau” dalam bahasa Tahiti. Tato pertama kali tercatat oleh peradaban Barat dalam ekspedisi James Cook pada tahun1769. Menurut beberapa peneliti, tato yang tertua ditemukan pada mumi Mesir dari abad ke 20 BC. Namun, seni lukis tubuh ini ditemukan di hampir semua bagian dunia dengan berbagai desain dan pola.
Tato Mesir, yang diperkirakan tato tertua ditemukan pada 1300 SM sedangkan Mentawai sudah menato tubuh mereka sejak kedatangan mereka ke pantai barat Sumatera pada Zaman Logam, 1500 SM – 500 SM. Mereka bangsa Proto-Melayu yang berasal dari daratan Asia (Indocina).
Menurut para peneliti “tato” di Indonesia, Tattoo Mentawai adalah yang tertua di dunia yang dikenal sebagai Titi. Bagi masyarakat Mentawai, tato merupakan roh kehidupan. Salah satu posisi tato adalah untuk menunjukkan identitas dan perbedaan status sosial atau profesi. Sebagai contoh, tato  Sikerei (sebutan untuk dukun Mentawai) berbeda dengan tato pemburu. Pemburu dikenal dengan gambar binatang tangkapannya, seperti babi, rusa, monyet, burung, atau buaya. Sedangkan Sikerei diketahui dari tato bintang “Sibalu-balu” di tubuh mereka.
Berdasarkan tradisi Mentawai, tato juga memiliki fungsi sebagai simbol keseimbangan alam. Dalam tradisi orang Mentawai, objek seperti batu, hewan, dan tumbuhan harus diabadikan di tubuh mereka. Mereka menganggap semua hal memiliki jiwa. Fungsi lain dari tato adalah seni, orang Mentawai menato tubuh mereka sesuai dengan kreativitasnya.
Kedudukan tato diatur oleh kepercayaan suku Mentawai, yang disebut Arat Sabulungan. Istilah ini berasal dari kata “sa” (koleksi), dan “bulung” (daun). Kumpulan daun yang disusun dalam sebuah lingkaran yang terbuat dari kelapa atau pucuk pohon sagu, yang diyakini memiliki kekuatan magis yang disebut “Kere” atau “Ketse”. Ini digunakan sebagai media untuk pemujaan terhadap “Tai Kabagat Koat” (Dewa Laut), “Tai Ka-leleu” (Dewa hutan dan gunung), dan “Tai Ka Manua” (Dewa awan).
“Arat Sabulungan” digunakan dalam setiap upacara, kelahiran, pernikahan, pengobatan, pindah rumah, dan tato. Ketika anak laki-laki memasuki masa pubertas, usia 11-12 tahun, tetua yang disebut Sikerei dan Rimata (kepala suku) akan bernegosiasi untuk menentukan hari dan bulan pelaksanaan tato.

Menato ala Mentawai
Setelah itu, dipilihlah “Sipatiti” (artis tato). Sipatiti tidak didasarkan pada penunjukan jabatan publik, seperti dukun atau kepala suku, tetapi profesi laki-laki. Keahlian Sipatiti itu harus dibayar dengan seekor babi. Sebelum tato dilakukan, diatur Upacara pertama dipimpin oleh Sikerei di Puturukat (galeri milik sipatiti).
Tubuh anak laki-laki yang akan tato digambar dengan tongkat. Sketsa pada tubuh kemudian ditusuk dengan jarum kayu. Tubuh anak dipukul perlahan-lahan dengan tongkat kayu untuk memasukkan pewarna ke dalam lapisan kulit. Pewarna yang digunakan adalah campuran daun pisang dan arang tempurung kelapa (Ady Rosa-Peneliti Tattoo).



Sumber: MoreIndonesia, larskrutak

Saturday, October 27, 2018

Prosesi pernikahan adat jawa yang penuh dengan filosofi tinggi

11 prosesi pernikahan adat jawa


1. Siraman: Membersihkan diri menjelang "acara" besar.

Sebelum memulai upacara pernikahan, pengantin melakukan siraman dari kata siram (mandi). Hal ini dimaksudkan untuk membersihkan diri kedua pengantin sebelum menjalankan upacara yang sakral. Ada tujuh orang yang akan menyiramkan air kepada calon pengantin. Tujuh di sini dalam Bahasa Jawa adalah "pitu" yaitu pitulungan (pertolongan) kepada calon pengantin.

2. Midodareni: Simbol malam yang baik untuk bersilaturahmi.

Silaturahmi antara kedua keluarga besar yaitu keluarga mempelai pria berkunjung ke rumah mempelai wanita. Malam Midodareni diadakan semalam sebelum upacara pernikahan dimulai keesokan harinya. Malam Midodareni dianggap sebagai malam yang baik yang dimaknai sebagai turunnya para bidadari.

3. Injak Telur: Dimaknai harapan dan lambang kesetiaan.


Telur dimaknai sebagai harapan agar pengantin memiliki keturunan yang merupakan tanda cinta kasih berdua. Setelah menginjak telur, pengantin wanita akan membasuh kaki pengantin pria yang merupakan lambang kesetiaan seorang istri pada suaminya.

4. Sikepan Sindur: Tali kasih yang erat dan tak terpisahkan.

Sikepan Sindur dilakukan setelah injak telur yaitu membentangkan kain atau sindur kepada kedua mempelai oleh ibu untuk kemudian berjalan menuju ke pelaminan. Bagian ini melambangkan harapan dari orang tua agar kedua mempelai selalu erat karena telah dipersatukan. Ayah akan menuntun kedua mempelai dengan berjalan memegang sindur tersebut.

5. Pangkuan: Berbagi kasih yang adil.

Kedua mempelai duduk di pangkuan sang ayah mempelai wanita. Pengantin wanita duduk di sebelah paha kiri ayah dan laki-laki disebelah kanan paha ayah. Bagian upacara ini menunjukkan bahwa kelak kedua mempelai akan memiliki keturunan dan diharapkan dapat berbagi kasih sayang yang adil seperti sang ayah. Bagian ini juga bermakna menimbang yang dimaksud tidak ada perbedaan kasih sayang untuk anak dan menantu.

6. Kacar Kucur: Lambang dari kesejahteraan dalam rumah tangga.


Mempelai pria akan mengucurkan sebuah kantong yang diisi dengan biji-bijian, uang receh dan beras kuning ke pangkuan wanita. Hal ini bermakna bahwa tugas suami adalah mencari nafkah dan istri yang mengelolanya. Bagian ini merupakan lambang dari kesejahteraan dalam rumah tangga.

7. Dulang-dulangan: Saling menolong dan rukun.

Adapula bagian prosesi yang disebut dengan Dahar Klimah atau dulang-dulangan (suap-menyuapi). Kedua mempelai akan saling menyuapi sebanyak tiga kali dan acara ini mempunyai harapan agar kedua mempelai selalu rukun dan saling tolong menolong dalam menempuh hidup baru sebagai keluarga.

8. Sungkeman: Bakti pada orangtua atau sesepuh.

Sungkeman merupakan bukti atau bentuk dari penghormatan kepada orang tua dan sesepuh. Sungkeman dilakukan kepada orang tua dan diteruskan kepada sesepuh yang lainnya. Prosesi ini merupakan hal yang sangat ditunggu-tunggu oleh kedua pengantin untuk mendapatkan restu dari orang tua untuk menjalani kehidupan yang baru bersama pasangan.

9. Janur kuning: Harapan mendapatkan cahaya yang baik.

Pasti kita sering mendengar janur kuning yaa. Dimana janur kuning merupakan gerbang untuk memasuki resepsi pernikahan. Janur "Jalarane Nur" yang maknanya agar pernikahan tersebut mendapatkan cahaya atau pencerahan untuk rumah tangga yang baru. Janur Kuning juga dimaksudkan untuk menandai adanya acara dan menyingkirkan hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.

10. Kembar mayang: Makna akan setiap harapan baik untuk rumah tangga nanti.

Rangkaian janur, daun dan ornamen-ornamen lainnya dan memiliki makna-makna yang berbeda. Terdapat ornamen janur yang dibentuk keris bermakna pengantin harus pandai dan berhati-hati serta bijaksana dalam menjalani kehidupan. Terdapat juga ornamen burung yang melambangkan motivasi yang tinggi dalam menjalani hidup.

11. Tarub: Kemakmuran dan harapan.

Tanda untuk menunjukkan bahwa keluarga sedang mengadakan acara dan keluarga yang memiliki hajatan tersebut akan memiliki hak-haknya. Biasanya, keluarga tersebut akan diberikan jalan, tarub berisi berbagai macam tumbuhan yang masing-masing memiliki makna. Tarub sendiri mempunyai lambang kemakmuran dan harapan bagi keluarga baru.
Sekarang kalian sudah mengerti beberapa makna yang ada di balik prosesi pernikahan dan hiasan pada acara pernikahan. Meski mungkin terkesan "ribet" tapi maknanya dalam lho.

Thursday, October 25, 2018

Mengenal suku Osing di Banyuwangi

Suku OSING


 Sejarah berdirinya kabupaten Banyuwangi tak bisa lepas dari kerajaan Blambangan. Blambangan adalah cikal bakal dari Banyuwangi itu sendiri. Bahkan Blambangan merupakan kerajaan yang paling lama bertahan terhadap serangan kerajaan Mataram dan VOC. Bukan hanya keindahan alam yang terbentang luas di bumi Blambangan ini, kekayaan budaya juga menjadi ciri khas populer yang dikembangkan oleh maysarakatnya.
Salah satu fakta keunikan Banyuwangi adalah penduduknya yang multi culuture yang terbentuk dari tiga elemen masyarakat yaitu suku Jawa, suku Madura dan suku Osing Banyuwangi. Tapi berdasarkan sejarah suku Osing adalah suku asli Banyuwangi yang sampai sekarang masih bertahan di Banyuwangi dengan segala tradisi dan kebudayaannya yang masih terjaga.
Suku Osing merupakan penduduk asli Banyuwangi karena suku Osing adalah masyarakat yang hidup pada pemerintahan kerajaan Blambangan. Suku Osing Banyuwangi juga memiliki adat istiadaat budaya, bahasa yang berbeda dari masyarakat jawa dan Madura. Seperti apa keunikan asli banyuwangi? Berikut informasinya

Berikut Informasi Suku Osing Banyuwangi

1. Wong Osing



Suku Osing Banyuwangi menempati beberapa kecamatan di kabupaten Banyuwangi bagian tengah dan utara. Terutama di kecamatan Banyuwangi, kecamatan rogojampi, Sempu, Gelagah Singojuruh, Giri, Kalipuro dan Songgon. Suku Osing atau lebih dikenal dengan wong Osing memiliki bahasa sendiri yakni bahasa Osing yang merupakan turunan langsung dari bahasa jawa kuno tapi bukan merupakan bahasa Jawa karena dialegnya yang berbeda.
Dari system kepercayaan wong Osing dahulu adalah pemeluk agama hindu seperti Majapahit. Namun seiring berkembangnya kerajaan islam di Pantura atau Pantai Utara jawa menyebabkan agama Islam cepat menyebar di kalangan suku Osing. Dikeseharian, mata pencaharian suku Osing adalah bertani, berkebun dan sebagian kecil lainnya adalah pedagang dan pegawai di bidang formal seperti karyawan, guru dan pegawai pemda.

2. Ritual Pecel Pitik



Kemiren adalah nama desa di wilayah Gelagah kabupaten Banyuwangi yang merupakan desa wisata. Di desa ini terdapat perkampungan asli warga suku Osing Banyuwangi. Di desa ini suku Osing masih mempertahankan tradisi dan nilai nilai leluhurnya. Hal ini terlihat jelas dengan rutinitas wajib yang dilakukan penduduk sekitar bila tengah menggelar sebuah pesta ucapan syukur. Mulai dari pernikahan sampai sunatan anak lelakinya.
Salah satu ritual yang dilakukan penduduk desa Kemiren pada hari kamis dan minggu adalah ritual pembersihan dari hal hal yang buruk atau biasa yang dikenal dengan pecel pitik. Ritual ini adalah ritual makan bersama di salah satu makam leluhur yang paling dihormati. Sebelum memulai ritual, pertama tama yang harus dilakukan adalah menyiapkan bahan bahan pembuatan pecel pitik terlebih dahulu. Seperti parutan kelapa yang tidak terlalu tua, ayam kampung dan bumbu bumbu seperti cabe, terasi, kemiri, bawang putih, kencur dan kacang.
Cara pembuatannya pun relative mudah, ayam kampung dibakar hingga matang diatas tumpuk kayu tradisional. Dan ada satu syarat yang tidak boleh dilanggar adalah masakan sama sekali tidak boleh dicicipi sampai ritual selesai. Setelah semuanya siap disajikan makanan disusun dalam pikulan khusus.
Sebelum mengantar ke makam buyut cilik ada salah satu syarat yang harus dipenuhi yaitu bila kita laki laki kita harus menggunakan ikat kepala atau udeng khas suku Osing. Ini merupakan simbol warga Osing menerima kita sebagai bagian dari mereka. Setelah siap semua, perjalanan pun dimulai ke makam buyut cilik.
Sesampainya di makam ritual dimulaai dengan menyisihkan sebagian makanan untuk diletakkan didalam makam. Kemudian setelah ayam dijadikan bagian bagian lebih kecil mereka mengistilahkannya di ucel ucel kemudian diaduk dengan kelapa dan bahan lainnya. Ritual pun dilanjutkan berdoa dengan memohon hajat dilancarkan.
Lalu tibalah saat menyantap makanan bersama sama. Ada kepercayaan jika semakin banyak porsi yang kita makan dan habiskan maka semakin besar pula rejeki yang akan didapatkan. Selesai bersantap ritual pun selesai. Uniknya lagi tradisi pecel pitik ini tidak setiap hari kita lakukan atau temukan. Ritual ini biasanya dilakukan suku osing di desa Kemiren pada hari kamis dan minggu pada pukul dua siang sampai 7 malam.

3. Sanggar Ganjah Arum

Mengenal Lebih Dekat Suku Osing
Bagi anda yang tidak memiliki waktu banyak untuk menjelajahi desa Kemiren, ada satu tempat yang dapat dikunjungi yang sangat mereprentasi atau gambaran desa adat suku Osing. Baik rumah atau tempat tinggalnya ataupun seni dan budayanya. Adalah sebuah tempat bernama sanggar Ganjah Arum milik salah satu pelestari budaya Osing bernama Setiawan Subekti. Sanggar yang dikemas apik dan desain tradisional ini oleh pengusaha perkebunan tersebut dijadikan bak museum suku Osing Banyuwangi sebagai suku asli Banyuwangi.
Masuk ketempat dengan luas sekitar 7000 meter persegi ini kita akan temui tatanan rumah dan benda benda kuno yang menceritakan dan menggambarkan desa kemiren pada masa 50 tahun lalu. 7 buah rumah tekel ditata tak beraturan bersama sejumlah ornament kuno seperti bebatuan fosil, mesin ketik dan telephone kuno serta berbagai macam benda benda tradisional lainnya seperti angklung paglak yakni sebuah tempat untuk memainkan alat musik angklung khas banyuwangi dengan luas 2 X 3 meter.
Bila diperhatikan bentuk rumah osing hampir sama dengan rumah khas Madura. yang membedakan hanya bentuk kayu atap kuda kudanya saja. Rumah osing atap kuda kudanya ada dua dimana bagian atas yang biasa disebut lambing lebih panjang daripada yang dibawah atau biasa yang disebut jahit pendek.
Selain rumah dan ornament ornament nya yang dilestarikan oleh pak iwan adalah salah satu tanaman khas suku Osing yakni biji kopi. Bahkan begitu cintanya dengan kopi suku osing, ditempat ini lah lahir semacam semboyan “Sekali seduh kita bersaudara”. Tak heran jika wisatawan wisatawan lokal dan mancanegara serta tokoh-tokoh penting datang mengunjungi keindahan budaya Osing atau sekedar menikmati kopi racikannya.

4. Indahnya Alunan Musik Othekan

Mengenal Lebih Dekat Suku Osing
Banyak kesenian asli Banyuwangi yang lahir dari suku Osing Banyuwangi ini. Sebut saja salah satunya tari gandrung yang begitu mempesona. Dan seorang penari sesepuh mak temu adalah salah satu saksi hidup yang sangat dihormati penari-penari gandrung di Banyuwangi.
Tak sedikit yang belajar langsung atau sekedar meminta restunya tiap kali akan melakukan pertunjukan. Setelah sekilas melihat mak temu menari dan mendedangkan lagu gandrung, kita berkesempatan melihat kesenian lainnya yang tak kalah mempesonanya. Yakni musik othekan, yang menjadikannya unik dan mengagumkan adalah selain alat musik yang digunakan yakni lesung dan alung, alat penumbuk padi yang dipadu dengan angklung dan biola.
Para pemain musiknya adalah wanita dan pria yang usianya sudah sepuh. Sebelum mulai, para nenek yang menggunakan baju tradisional berwarna hitam ini terlihat menggenggam perlengkapan sirih. Ya tradisi menyirih sepertinya menjadi bagian yang tak terlupakan oleh masyarakat suku osing bila sudah memasuki usia senja.

Wednesday, October 24, 2018

Kebudayaan Suku Toraja Dan Keunikannya

              Suku Toraja




Suku Dunia ~ Nama Toraja mulanya diberikan oleh suku Bugis Sidendereng dan dari luwu. Orang Sidendreng menamakan penduduk daerah ini dengan sebuatn To Riaja yang mengandung arti “Orang yang berdiam di negeri atas atau pegunungan”, sedang orang Luwu menyebutnya To Riajang yang artinya adalah “orang yang berdiam di sebelah  barat”. Ada juga versi lain bahwa kata Toraya asal To = Tau (orang), Raya = dari kata Maraya (besar), artinya orang orang besar, bangsawan. Lama-kelamaan penyebutan tersebut menjadi Toraja, dan kata Tana berarti negeri, sehingga tempat pemukiman suku Toraja dikenal kemudian dengan Tana Toraja.


Adat Istiadat Suku Toraja

upacara-rambu-solo

Rambu Solo adalah upacara adat kematian masyarakat Toraja yang bertujuan untuk menghormati dan menghantarkan arwah orang yang meninggal dunia menuju alam roh, yaitu kembali kepada keabadian bersama para leluhur mereka di sebuah tempat peristirahatan. Upacara ini sering juga disebut upacara penyempurnaan kematian karena orang yang meninggal baru dianggap benar-benar meninggal setelah seluruhprosesi upacara ini digenapi. Jika belum, maka orang yang meninggal tersebut hanya dianggap sebagai orang sakit atau lemah, sehingga ia tetap diperlakukan seperti halnya orang hidup, yaitu dibaringkan di tempat tidur dan diberi hidangan makanan dan minuman bahkan selalu diajak berbicara.

Puncak dari upacara Rambu solo ini dilaksanakan disebuah lapangan khusus. Dalam upacara ini terdapat beberapa rangkaian ritual, seperti proses pembungkusan jenazah, pembubuhan ornament dari benang emas dan perak pada peti jenazah, penurunan jenazah ke lumbung untuk disemayamkan, dan proses pengusungan jenazah ke tempat peristirahatan terakhir.

Selain itu, dalam upacara adat ini terdapat berbagai atraksi budaya yang dipertontonkan, diantaranya adu kerbau,kerbau-kerbau yang akan dikorbankan di adu terlebih dahulu sebelum disembelih, dan adu kaki. Ada juga pementasan beberapa musik dan beberapa tarian Toraja. Kerbau yang disembelih dengan cara menebas leher kerbau hanya dengan sekali tebasan, ini merupakan ciri khas masyarakat Tana Toraja. Kerbau yang akan disembelih bukan hanya sekedar kerbau biasa, tetapi kerbau bule Tedong Bonga yang harganya berkisar antara 10 hingga 50 juta atau lebih per ekornya.


Rumah Adat Suku Toraja

rumah-tongkonan

Tongkonan adalah rumah tradisional masyarakat Toraja, terdiri dari tumpukan kayu yang dihiasi dengan ukiran berwarna merah, hitam, dan kuning. Kata “tongkon” berasal dari bahasa Toraja yang berarti tongkon “duduk”. Selain rumah, Tongkonan merupakan pusat kehidupan sosial suku Toraja. Ritual yang berhubungan dengan rumah adat ini sangatlah penting dalam kehidupan spiritual suku Toraja. Oleh karena itu semua anggota keluarga diharuskan ikut serta karena melambangkan hubungan mereka dengan leluhur mereka. Menurut cerita rakyat Toraja, Tongkonan pertama dibangun di surga dengan empat tiang. Ketika leluhur suku Toraja turun ke bumi, dia meniru rumah tersebut dan menggelar upacara yang besar.


Kesenian Suku Toraja

ukiran-kayu-suku-toraja

Tanah toraja adalah salah satu daerah yang terkenal akan ukirannya. Ukiran ini menjadi kesenian khas suku bangsa Toraja di Sulawesi Selatan. Ukiran dibuat menggunakan alat ukir khusus di atas sebuah papan kayu, tiang rumah adat, jendela, atau pintu. Bukan asal ukiran, setiap motif ukiran dari Tana Toraja memiliki nama dan makna khusus. Keteraturan dan ketertiban merupakan ciri umum dalam ukiran kayu Toraja. Selain itu, ukiran Tana Toraja memiliki sifat abstrak dan geometris. Tumbuhan dan hewan sering dijadikan dasar dari ornament Toraja.


Pakaian Adat Suku Toraja

pakaian-adat-suku-toraja

Pakaian adat pria Toraja dikenal dengan Seppa Tallung Buku, berupa celana yang panjangnya sampai di lutut. Pakaian ini masih dilengkapi dengan asesoris lain, seperti kandaure, lipa', gayang dan sebagainya. Baju adat Toraja disebut Baju Pokko' untuk wanita. Baju Pokko' berupa baju dengan lengan yang pendek. Warna kuning, merah, dan putih adalah warna yang paling sering mendominasi pakaian adat Toraja. Baju adat Kandore yaitu baju adat Toraja yang berhiaskan Manik-manik yang menjadi penghias dada, gelang, ikat kepala dan ikat pinggang.


Peninggalan Suku Toraja

gua-londa

Londa adalah sebuah kompleks kuburan kuno yang terletak di dalam gua. Di bagian luar gua terlihat boneka-boneka kayu khas Toraja. Boneka-boneka merupakan replika atau miniatur dari jasad yang meninggal dan dikuburkan di tempat tersebut. Miniatur tersebut hanya diperuntukkan bagi bangsawan yang memiliki strata sosial tinggi, warga biasa tidak mendapat kehormatan untuk dibuatkan patungnya.

Kuburan Gua londa Tana Toraja adalah kuburan pada sisi batu karang terjal , salah satu sisi dari kuburan itu berada di ketinggian dari bukit mempunyai gua yang dalam dimana peti-peti mayat di atur dan di kelompokkan berdasarkan garis keluarga. Disisi lain dari puluhan tau-tau berdiri secara hidmat di balkon wajah seperti hidup mata terbuka memandang dengan penuh wibawah.


Makanan Khas Suku Toraja

makanan-khas-suku-toraja

Pa’piong merupakan makanan khas suku toraja yang mempunyai nama cukup unik dan berbahan dasar daging babi atau biasanya juga bisa daging ayam. Kalau biasanya daging babi atau ayam diolah di bakar atau di goreng atau bisa juga di rebus, masyarakat Toraja mengolah daging-daging tersebut dengan memasukkannya ke dalam bambu lalu di bakar. Seperti pengolahan nasi bambu. Tapi setelah di masak dengan bambu makanan ini kemudian diolah lagi dengan memanggang daging yang sudah dimasak dengan bambu. Proses pembuatannya sebelum dimasukkan kedalam bambu daging terlebih dahulu diolah dengan cara dicampurkan dengan rempah rempah dan bumbu yang kemudian ditambahkan dengan cabai local.


                    Kunjungi juga: prapatanchaos.blogspot.com

Tuesday, October 23, 2018

Mengenal suku Bawean di Gresik,Jawa Timur

suku Bawean di Gresik

Mengenal Suku Bawean Dari Kabupaten Gresik Jawa Timur

 Suku Bawean merupakan etnis kelompok melayu yang mendiami pulau Bawean yang terletak di laut jawa antara pulau Kalimantan dan pulau jawa. Terletak sekitar 80 mil kearah utara Surabaya. Pulau Bawean terdiri atas dua kecamatan, yaitu kecamatan Sangkapura dan kecamatan Tambak.


Terdapat salah satu kelurahan di bawean, yaitu Diponggo yang bahasanya berbeda jauh dari desa-desa yang lain. Mereka berbahasa semi Jawa yang merupakan warisan dari seorang ulama wanita yang pernah menetap di desa itu, yaitu waliyah Zainab, yang kabarnya masih keturunan Sunan Ampel.

Asal usul penemuan pulau Bawean

Secara etimologi, kata Bawean berasal dari bahasa Sanskerta, yang berarti ada sinar matahari. Menurut legenda, sekitar tahun 1350, sekelompok pelaut dari Kerajaan Majapahit terjebak badai di Laut Jawa dan akhirnya terdampar di Pulau Bawean pada saat matahari terbit. Kitab Negarakertagama menyebutkan bahwa pulau ini bernama Buwun.

Keberadaan suku Bawean di Malaka

Belum diketahui pasti kapan kedatangan orang-orang Bawean ke Malaka karena tidak ada bukti dan dokumentasi sejarah dan catatan resmi mengenai kedatangan mereka di Malaka. Namun terdapat tiga pendapat yang dikemukakan, namun ketiga pendapat tersebut tidak bisa menunjukkan waktu yang tepat.

1. Pendapat pertama mengatakan bahwa ada orang yang bernama Tok Ayar datang ke Malaka pada tahun 1819.

2. Pendapat yang kedua mengatakan bahwa orang Bawean datang pada tahun 1824, kira-kira semasa penjajahan Inggris di Malaka, dalam catatan Pemerintah Koloni Singapore pada tahun 1849 terdapat 763 orang Bawean dan itu terus bertambah jumlahnya. Sedangkan dalam catatan Persatuan Bawean Malaysia pada tahun 1891 terdapat 3.161 orang Bawean yang tersebar di Kuala Lumpur, Johor Bharu, Melaka, Seremban dan Ipoh.

3. Pendapat yang ketiga mengatakan orang Bawean sudah ada di Malaka sebelum tahun 1900 dan pada tahun itu sudah banyak orang Bawean di Malaka

Umumnya mereka tinggal di kota atau daerah yang dekat dengan perkotaan, seperti di Kampung Mata Kuching, Klebang Besar, Limbongan, Tengkera dan kawasan sekitar Rumah Sakit Umum Malaka. Selain di Malaka, orang Bawean juga tersebar Malaysia, Singapura, Australia dan Vietnam.

Sistem kepercayaan
Agam islam merupakan agama Mayoritas masyarakat Bawean. Sedangkan agama lain merupakan masyarakat pendatang. Penyebaran Agama Islam di Bawean terjadi pada awal abad ke-16 yang dibawa oleh Maulana Umar Mas'ud. Sampai saat ini, Makam beliau merupakan tujuan peziarah lokal maupun dari luar Bawean. Makamnya terletak di wilayah Sangkapura di pantai selatan pulau tersebut. selain itu juga terdapat ulama wanita di pantai utara, tepatnya di desa Diponggo terletak di atas dataran tinggi. Ia merupakan penyebar agama islam di Diponggo, namanya Waliyah Zainab.

Bahasa

Bahasa yang digunakan adalah bahasa Bawean yang memiliki kemiripan dengan bahasa Madura. Meskipun bahasanya yang mirip, tapi adat dan budaya sukus Bawean sangat berbeda dengan Madura. Mereka juga tidak mau disebut sebagai orang Madura karena perbedaan kebudayaan. Bahasa Bawean ditengarai sebagai kreolisasi bahasa Madura karena kata-kata dasarnya yang berasal dari bahasa ini.

Budaya Merantau

Masyarakat Bawean juga terkenal dengan budaya merantau. Mereke merantau ke Bandar Malaka berlangsung sejak ratusan tahun yang lalu karena pada abad 15 dan 16 Bandar Malaka menjadi pusat perdagangan. Mereka merantau dengan alasan ekonomi maupun tradisi hingga akhirnya terjadi migrasi ke semenanjung Malaka dan sekitarnya.

Pada tahun 1849 jumlah orang Bawean di Singapura berjumlah 763 dan jumlahnya terus bertambah pada tahun 1957 sebanyak 22.167. Para perantau Bawean pada abad 19 menggunakan kapal jurusan Bawean ke Singapura yang dimiliki oleh pengusaha keturunan Palembang yang biasa disebut Kemas.

Kesenian

Setiap suku bangsa di Indonesia, memiliki kesenian yang unik dan berbeda-beda. Sama halnya dengan suku Bawean. Di bawah ini adalah kesenian dari masyarakat Bawean.

Kercengan

Kesenian ini biasa dipertunjukkan sewaktu acara Perkawinan. Masyarakat Madura menyebut nama kercengan dengan Hadrah. Penari berbaris sebaris atau dua baris. Pemain kompang dan penyanyi duduk di barisan belakang. Lagu-lagu yang dimainkan adalah lagu-lagu salawat kepada Nabi Muhammad SAW. Pemain dari kesenian kercengan terdiri dari laki-laki dan perempuan.

Cukur Jambul

Cukur jambul merupakan adat istiadat yang diperuntukkan pada bayi yang telah genap usianya 40 hari. Cukur jambul diiringi dengan bacaan berzanji bersama paluan kompang.

Pencak Bawean

Pencak Bawean sering ditampilkan dalam acara hari besar seperti hari kemerdekan 17 agustus maupun acara perkawinan orang bawean. Pencak Bawean mengutamakan keindahan langkah dengan memainkan pedang.

Dikker

Alunan puji-pujian dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW disertai dengan permainan terbang.

Mandiling

Ini merupakan kesenian sejenis tari-tarian yang disertai dengan pantun.